Tuesday, April 18, 2017

Berpihak Pada Akal Sehat





Banyak orang bahkan teman-teman saya sendiri mungkin bertanya, kenapa saya secara terang-terangan berpihak pada Ahok dalam Pilkada DKI. Keuntungan apa yang saya peroleh. Apa yang saya dapatkan dari pemihakkan itu.


Pertama harus dipahami, saya bukanlah warga DKI Jakarta. Dalam KTP saya tertera alamat Desa Tinggede, Kecamatan Maravola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Jadi Ahok tidak mendapatkan keuntungan dukungan suara dari saya, dan saya pun tidak dapat keuntungan materi dari keberpihakan saya. Jadi tidak perlulah heboh saya memihak siapa. Toh juga tidak berpengaruh apa-apa.

Baca Juga: Detik Terakhir

Disisi lain saya malah mendapat cibiran dan dihindari oleh beberapa orang yang tidak suka dengan keberpihakan saya. 

Lantas untuk apa saya berpihak?

Awalnya saya hanya melihat Pilkada DKI sebagai tontonan seru dimana Ahok berdiri seorang diri menentang barisan sakit hati dari elit-elit yang kepentingannya terganggu. Saat itu jaringan Teman Ahok hadir hanya dalam konteks menggalang dukungan politik masyarakat untuk maju dalam Pilkada sebagai calon independen. Tapi diluar konteks itu Ahok menghadapi gempuran demi gempuran asosiasi lawan politiknya seorang diri. 

Kasus UPS, perseteruan dengan DPRD, kasus sumber waras, kasus gulungan kabel, kasus penertiban pedagang kaki lima, kasus parkir liar yang merugikan Pemda, semua dia hadapi sendiri dan selalu menang. Inilah yang membuat Pilkada DKI menjadi seru. Ada pertarungan sosok baik dan sosok jahat, seperti dalam film-film super hero.
Tapi semakin lama kecenderungan Pilkada DKI semakin bergeser, dari tontonan seru menjadi tontonan horror. Dalam beberapa kejadian, akal sehat malah dijungkirbalikkan. Dan yang lebih horror lagi, sentiment keagamaan meningkat tajam.

Dalam situasi inilah saya berpikir untuk BERPIHAK. 

Keberpihakan ini sudah bukan lagi pada sosok Ahok tapi pada AKAL SEHAT dan masa depan negeri yang dipuji dunia internasional karena kebhinekaannya ini.

Pilkada DKI yang harusnya jadi masalah lokal Jakarta kini beralih menjadi keprihatinan umum. Ada hal-hal mendasar yang dipertaruhkan disana yakni masa depan demokrasi dan kebhinekaan. Bisa dibayangkan bagaimana jika sentimen keagamaan ini menular kesemua daerah. Bagaimana jika politisasi agama menjadi trend Pilkada di daerah lain yang mayoritas muslim maupun daerah mayoritas non muslim.

Disanalah kebhinekaan kita terancam.

Bagaimana bisa Ahok dikatakan menista agama. Jika pidato di kepulauan seribu jadi sebabnya, hingga kini saya tidak melihat dimana letak kesalahan Ahok dalam pidato itu. Saya malah melihat dia berkata jujur, karena kenyataannya memang ada orang yang menggunakan ayat Al Qur’an untuk mengejar kekuasaan.

Bagaimana mungkin kita dilarang memilih pemimpin politik yang jujur dan amanah hanya karena ia non muslim? Bagaimana bisa orang yang memilihnya dikatakan munafik dan jenazahnya tidak boleh di shalatkan? Mau tidak mau saya harus berpihak pada nurani dan AKAL SEHAT saya.

Jika kata aulia dalam Al Maidah 51 diartikan sebagai pemimpin dan berlaku untuk semua pemimpin dalam semua kondisi, maka munafik semualah muslim yang mau tinggal di negeri-negeri yang pemimpinnya non muslim, munafik semualah muslim yang belajar diinstitusi pendidikan yang pemimpinnya non muslim, munafik semualah muslim yang bekerja ditempat usaha non muslim, diperusahaan-perusahaan milik non muslim, direstoran-restoran non muslim, di bengkel-bengkel non muslim, di gerai-gerai non muslim, di media-media TV milik non muslim.

Apakah jenazah mereka harus diterlantarkan? atau mereka harus diusir dari masjid?

Disinilah AKAL SEHAT harus bereaksi. 

Saya berharap mereka bisa sedikit meluangkan waktu membaca asbabun nuzul turunnya Al Maidah 51.

Baca Juga: Murahnya Agamaku

Dikatakan lagi bahwa Ahok adalah sumber masalah, bahwa semua masalah ini tidak akan ada tanpa kehadiran Ahok. Bukankah lawan politik yang benci dengan Ahok yang membuat ini jadi masalah? Sebenarnya dimana letak masalah yang disebabkan Ahok? Disinilah AKAL SEHAT mesti berperan.

Kalau mau jujur, dari apa yang sudah dilakukan Ahok sejauh ini, maka yang bermasalah dengan Ahok sesungguhnya adalah para mafia. Ada mafia anggaran di DPR, mafia parkir DKI yang meraup keuntungan ratusan juta, mafia jual beli jabatan, mafia hiburan malam dan tempat prostitusi, mafia pungutan liar, dan serigala-serigala lapar lain yang dengan sabar dan penuh harap memakai segala cara agar bisa melihat kejatuhan Ahok.
Dalam tatanan masyarakat bernegara situasi yang memanas di Pilkada DKI sudah berubah menjadi horror yang kapan saja bisa meledak menjadi konflik berkepanjangan. Ada jenazah yang dilarang untuk dishalatkan, ada muslim yang diusir dari masjid seusai shalat Jum’at.

Sampai disini, saya harus tegaskan bahwa keberpihakan saya bukan untuk keuntungan materi, tapi jauh lebih dari itu, saya berpihak kepada FITRAH yang dikaruniakan Tuhan pada saya, kepada AMANAH dari agama yang saya yakini. 

Fitrah itu adalah AKAL SEHAT. Al Qur’an kitab suci agama saya memerintahkan saya untuk berpikir. Amanah itu adalah RAHMATAN LIL ALAMIN, saya wajib menunjukkan bahwa agama saya berwajah teduh dan damai.

Mari Ngopi
___
Palu, 18 April 2017
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment