Thursday, September 11, 2014

Koalisi Tanpa Syarat: Titik Persinggungan





Menarik mengikuti perkembangan politik Indonesia saat ini. Banyaknya hal baru menjadikan ia menarik. Ruang bagi publik pun diperlebar, masyarakat semakin ingin terlibat, dari usulan nama-nama dalam komposisi kabinet baru nantinya hingga sebatas mendiskusikannya di warung-warung kopi. Untuk usulan nama dalam kabinet, kita bisa lihat situs-situs yang menampung aspirasi publik.

Namun namanya sesuatu yang baru, pasti menuai kontroversi, sebab lumrahnya kita akan merasa risih jika sebuah kebiasaan ditabrakkan dengan perubahan mendadak. Hal ini juga berlaku dengan budaya baru yang coba dibangun oleh presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi-JK. Pernyataan paling anyar yang sedari awal dilontarkan Jokowi menjadi kunci polemik dan dinamika politik menjelang masa transisi. “Koalisi tanpa syarat” meniscayakan pemahaman politik non transaksional yang berarti tak ada jual beli posisi atau bagi-bagi kekuasaan dalam kabinet. Tak hanya itu Jokowi kembali menyatakan, “Ketua Partai tidak boleh jadi menteri.” Praktis hal ini memicu pandangan sinis baik dari kubu lawan maupun kubu pendukung.

Sunday, August 31, 2014

Sensasi Air Suci


Sisa terik siang masih terasa, aku duduk di atas motor, berteduh di bawah pohon Beringin di halaman ini. Sudah tujuh menit semenjak ia berpamitan, tak selama ini sebelumnya. Lelakiku, seorang berdada bidang dengan pundak dan lengan yang kokoh. Semakin lama, aku semakin tak sanggup berpisah jauh darinya, setiap hari bahkan setiap malam aku ingin berada di dekatnya.

Saturday, August 30, 2014

I wonder where "civilization" is really exist


There she was, sitting on the brown dotted stone with two little boys. Down the stone salt water from Karimata strait plays smooth wave. Nadine that’s the way she called. For Indonesian people this name would sounds like pretty and elegant woman, Nadine Chandrawinata was nominated as Miss Indonesia 2005, but this Nadine is just a little girl, not yet a woman.

Friday, July 11, 2014

Apa Jadinya Jika Marcos Menyewa Lembaga Survey?


Setelah masa tenang seusai kampanye, dilanjutkan dengan Pemilu 9 Juli, ternyata suhu politik tidak menurun. Sebenarnya saya merasa risih untuk menulis lagi tentang pemilu, harusnya ini adalah masa tenang, terlebih sehari sebelum pencoblosan (8 Juli) Israel kembali menyayat rasa kemanusiaan dengan membombardir wilayah Gaza dan membunuh warga sipil dan anak-anak. Namun saya juga merasa tulisan ini penting sebab suhu politik terkini semakin rawan akan konflik. Pelaku kepentingan Pilpres seakan menemukan gelanggang baru untuk berperang: Quick Count.

Tuesday, July 8, 2014

Akhirnya Memilih


Tidak banyak pilihan pada Pemilu Presiden kali ini, hanya dua kandidat pasangan calon. Nomor urut satu dihuni Prabowo-Hatta, nomor dua diisi Jokowi-JK. Mereka berduel, head to head, satu lawan satu. Ini kali pertama dalam sejarah pemilihan langsung Presiden. Dalam situasi seperti ini pemilih akan lebih fokus pada dua calon, sehingga menarik perhatian publik lebih besar.

Terlebih Pilpres kali ini menyuguhkan dua kandidat yang berbeda karakter dan latar belakang. Yang satu mantan militer dan birokrat, olehnya diasumsikan tegas. Yang lain berasal dari masyarakat sipil dan kerap turun lapangan, olehnya dikatakan sederhana dan merakyat. Yang satu disebut punya Grand strategy yang hebat, yang lain kaya akan pengalaman memimpin sipil. Situasi ini semakin menarik perhatian. Hanya ada dua pilihan jika tidak suka hitam anda harus pilih putih, jika tidak ingin putih anda harus pilih hitam.

Wednesday, May 28, 2014

Pemilu Presiden dan Adab Perang


Perang informasi dan propaganda media menjelang Pemilu Presiden 2014 makin menarik. Sebagian gila. Halaman sosial media tidak pernah lepas dari postingan seputar Prabowo atau Jokowi. Nama-nama ini juga betah nongkrong di etalase headline media cetak dan portal berita online. Tidak ada tempat sembunyi. Pengap. Hingga saya larut di dalamnya.

Wednesday, May 21, 2014

Pemilu Presiden 2014: Kelucuan yang Mengharukan




Polemik calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan bertarung di Pemilu 9 Juli nanti mencuat beberapa minggu terakhir. Kondisi membuat saya tidak bisa memantau lewat televisi, namun sosmed (sosial media) yang hampir tiap hari saya kunjungi tak pernah lepas dari topik ini. Tak ada tempat untuk bersembunyi.

Semampu mungkin saya tidak menulis tentang kubu yang akan bertarung. Tulisan tentang itu sudah terlalu banyak, bahkan over dosis di dinding facebook, di kicauan twitter dan betah menghuni etalase headline portal berita nasional. Menulis topik yang sama hanya akan melakukan pengulangan dan terkesan latah.

Monday, March 17, 2014

Vertebrata



Menjalani proses
(mencoba) mengamankan kebutuhan purba paling mendasar

Hari ini aku bertemu banyak vertebrata
Hilir mudik menurut kolini

Sunday, March 9, 2014

Strong in Beauty


Memasuki pertengahan 1429 sepasukan tentara Prancis menyusuri sungai Loire, merebut jembatan-jembatan penting, memukul mundur pasukan Inggris dan Burgundi, serta mempermalukan komandan Inggris Sir John Fastolf.

Prancis saat itu berada diambang kehancuran dan keputus-asaan, hingga Jeanne d'Arc, gadis petani buta huruf berusia 17 tahun muncul di hadapan Charles VII menawarkan diri sebagai komandan pasukan. Dibawah bawah kepemimpinan Jeanne, Inggris mengalami banyak kekalahan dan Prancis mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Jeanne dan pasukannya mengantar Charles VII merebut kembali tahtahnya.

Monday, March 3, 2014

Mendefinisi Tuhan


Kaum Materialis menganggap "Tuhan" adalah hasil rekayasa psikologi; imajinasi orang-orang lemah, menyerah, dan membutuhkan pertolongan.

Wednesday, February 26, 2014

Ali Syari'ati: Perkawinan Barat, Timur, dan Islam


Jika Indonesia memiliki Tan Malaka, Cuba punya Che Guevara, Afrika Selatan ada Nelson Mandela, dan di India terdapat Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi, maka Iran juga memiliki tokoh revolusioner yang gigih: Ali Syari’ati.

Wednesday, January 15, 2014

Cukuplah Untuk Hari Ini


Endi menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya tertuju jauh keujung samudra, titik temu laut dan langit. Dalam genggamannya joran bambu seukuran jempol kaki membujur statis diatas pangkuannya. Kali kedua dalam minggu ini, Endi menghabiskan waktu sorenya di dermaga Leok. Biasanya ia memerlukan tiga sampai empat jam untuk menghabiskan satu paket umpan yang ia bawa dari rumah.

Endi sangat senang memancing. Selain memancing, pria paruh baya yang dikenal penyendiri oleh warga pelabuhan ini juga lebih suka bercengkrama dengan anak-anak ketimbang terlibat percakapan panjang dengan orang dewasa.