Wednesday, May 21, 2014

Pemilu Presiden 2014: Kelucuan yang Mengharukan




Polemik calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan bertarung di Pemilu 9 Juli nanti mencuat beberapa minggu terakhir. Kondisi membuat saya tidak bisa memantau lewat televisi, namun sosmed (sosial media) yang hampir tiap hari saya kunjungi tak pernah lepas dari topik ini. Tak ada tempat untuk bersembunyi.

Semampu mungkin saya tidak menulis tentang kubu yang akan bertarung. Tulisan tentang itu sudah terlalu banyak, bahkan over dosis di dinding facebook, di kicauan twitter dan betah menghuni etalase headline portal berita nasional. Menulis topik yang sama hanya akan melakukan pengulangan dan terkesan latah.

Meski tak menulis secara khusus, namun ide dan opini saya tebarkan di kolom-kolom komentar, hingga ikut-ikutan twitter yang otomatis berstatus di facebook sebab dua akun tersebut saya hubungkan. Berita terkait juga sering saya bagi (share). Harus diakui, pada pemilu kali ini sulit bagi saya untuk tak acuh. Maka memberi komentar, berkicau atau update status menjadi kebutuhan yang susah dihindari saat sebuah isu mencuat. Saya berpikir itu sudah cukup. Ternyata tidak.

Saya akhirnya harus membuka halaman baru microsoft word. Saya menyerah, saya ingin menulis. Ikhwal yang saya akan tulis di sini bukan mengenai bagaimana baiknya seorang pemimpin, namun lebih pada kelucuan yang mengharukan seputar pencalonan.

Senin 19 Mei – 2 hari lalu – pasangan kandidat yang akan berebut kursi RI 1 sudah mendeklarasikan secara resmi pencalonannya. Tepat satu hari sebelum batas waktu pendaftaran. Deklarasi ini juga menjawab teka-teki dan spekulasi yang hingar bingar. Koalisi pun mulai terlihat terang meski beberapa partai masih malu-malu. Jokowi – Jusuf Kalla sudah lama disebut-sebut akan berpasangan, sebaliknya Prabowo – Hatta Rajasa mencapai kesepakatan sebelum bel akhir berbunyi.


Rentetan opera berlanjut, yang paling menonjol adalah kampanye hitam. Bagi sebagian orang - termasuk saya - di masa “kampanye” yang singkat, padat namun tidak jelas ini, agak sulit memilah berita objektif bertendensi baik – tidak ada berita yang tidak bertendensi. Sebelum deklarasi, kandidat presiden dari partai Golkar tumbang karena kasus lumpur Lapindo. Perang fakta dan fiksi makin panas.

Dari akun facebook teman (Sherr Rinn) terlihat bahwa serikat buruh di wilayah Jabodetabek pecah akibat pernyataan sikap sebagian dari mereka yang menolak kandidat pelanggar HAM. Ini isu yang paling sengit menghadang Prabowo dan paling beresiko bagi pengusung isunya. Kasus HAM diseputar peristiwa 1998 berkontribusi besar bagi citra mantan pimpinan Kopasus ini, hingga memaksa Ia putar haluan, mengusung isu pemurnian ajaran agama untuk mendulang suara. Al hasil, 4 partai berlatar Islam menyatakan dukungannya, meski sebagian pengamat khawatir akan meningkatnya kekerasan atas nama agama jika hal itu benar-benar diwujudkan.

Kubu Jokowi tak ketinggalan diserang habis-habisan. Serangan ke kubu ini mengarah pada keputusan Jokowi yang meninggalkan tanggungjawabnya sebagai gubernur DKI Jakarta dan memilih maju sebagai kandidat presiden. Lebih lucu lagi, Jokowi juga mendapatkan serangan berbau rasis. Ia sempat dikatakan 'Keturunan Cina', hingga akta nikah palsu.

Teman-teman di sosmed juga tidak sedikit yang ikut memeriahkan opera ini. Saya bahkan merasa perlu beberapa kali berstatus atau mengomentari informasi liar yang muncul serampangan di dinding facebook. Bukannya sok paham tapi justeru ketidak-fahaman mendorong saya mengingatkan teman-teman agar tidak terlalu jauh masuk dalam pusaran awan hitam kampanye yang menggiring mereka untuk menghujat salah satu kandidat sambil memuji bahkan fanatik dengan kandidat lain.

Namun opera diatas tidak lantas mendorong saya untuk menulis. Dorongan itu datang setelah beberapa menit lalu saya membuka berita yang cukup kontemplasi dan membuat saya terdiam beberapa saat.

“Hari ini, 16 Tahun Lalu, Amien Rais Nyaris Ditembak Anak Buah Prabowo”, ini judul berita yang di-posting tanggal 20 Mei di metrotvnews.com. Tepat 16 tahun setelah kejadian itu. Saya tertegun, antara kagum dengan pembuat beritanya dengan kenyataan Prabowo menggandeng Hatta Rajasa dengan restu Amien Rais. Tokoh yang disebut sebagai aktor sentral gerakan reformasi 1998 ini hadir dalam deklarasi pencalonan Prabowo-Hatta dan tribunnews.com mengutip pernyataan bahwa Amien meminta semua pihak tak lagi melihat masa lalu.

Setelah membaca berita di metrotvnews.com saya pun menggeser layar ke bawah, mencari tombol share dan membaginya ke timeline facebook, tak lupa memberi petikan bait puisi salah satu korban penculikan aktifis 1998 Wiji Tukul berjudul Derita Sudah Naik Seleher.

***

Pemilu kali ini memang berbeda. Banyak hal yang baru, banyak hal yang lucu, banyak juga yang mengharukan. Tak pernah saya seaktif ini terlibat dalam urusan kampanye Pemilu Presiden sebelumnya. Meski beberapa kali menjadi panitia penyelenggara pencoblosan di tingkat Desa, saya belum pernah memilih. Seumur hidup hanya sekali saya memilih yakni pemilihan Kepala Desa.

Tapi pemilu kali ini memang berbeda. Banyak hal yang baru. Mungkin juga akan jadi pengalaman pertama saya memilih. Entahlah.

Baca Juga: Akhirnya Memilih

___
Palu, 21 Mei 2014

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment