Wednesday, January 15, 2014

Cukuplah Untuk Hari Ini


Endi menghisap rokoknya dalam-dalam. Matanya tertuju jauh keujung samudra, titik temu laut dan langit. Dalam genggamannya joran bambu seukuran jempol kaki membujur statis diatas pangkuannya. Kali kedua dalam minggu ini, Endi menghabiskan waktu sorenya di dermaga Leok. Biasanya ia memerlukan tiga sampai empat jam untuk menghabiskan satu paket umpan yang ia bawa dari rumah.

Endi sangat senang memancing. Selain memancing, pria paruh baya yang dikenal penyendiri oleh warga pelabuhan ini juga lebih suka bercengkrama dengan anak-anak ketimbang terlibat percakapan panjang dengan orang dewasa.

“Memancing itu sama dengan melatih diri untuk menghadapi hidup,” katanya kepada pak Haji penjual rokok di gerbang pelabuhan tahun lalu, saat ia menghabiskan hampir tiap sorenya di dermaga.

“Disana terdapat titik dimana ikhtiar dan tawakal bertemu” terangnya.

Selain dermaga Leok, Endi tidak pernah memancing di tempat lain. Tahun lalu ia sangat ingin merasakan sensasi memancing di dermaga Palele yang katanya lebih ramai dibanding dermaga Leok. Dermaga yang konon menjadi urat nadi utama perdagangan di Buol. Namun keinginan bukanlah kebutuhan, Endi adalah tipe orang yang tidak suka bepergian, ia sudah cukup puas dengan dermaga Leok meskipun beberapa tahun belakangan hasil tangkapannya menurun. Dermaga Leok menyediakan apa yang ia butuhkan. Memberinya sunrise indah yang muncul disetiap pagi, selalu dari sisi kanan. Menyediakan tempat baginya menambat berbagai kenangan, selalu diujung hari.

*
“Memancing adalah pekerjaan paling membosankan,” kata Rima suatu ketika. Endi bergeming, mendebat orang yang tidak suka memancing sama dengan menyuap daging ke mulut ayam. Rima memang tidak suka memancing, hanya tiga kali Endi meminta gadis cantik itu menemaninya memancing, selebihnya mereka menghabiskan waktu sore. Duduk bergelantungan kaki di pinggir dermaga kayu yang mulai lapuk atau melempar koin untuk diperebutkan anak-anak kampung nelayan di sisi kiri pelabuhan.

Rima memiliki keahlian sendiri, menebak dan sesekali dengan sedikit sok tahu mengartikan pertanda. Yang kedua ini tidak pernah dianggap serius oleh Endi, tapi lagi-lagi tidak perlu ada perdebatan tentang kebenarannya.

*
Joran bambu ditangan Endi bergerak. Nihil, tidak ada tangkapan yang terangkat, malah umpan dimata kailnya habis. Diliriknya tempat penyimpanan umpan, beberapa puntung rokok sudah menggeletak didekatnya, mati sendiri atau dipaksa mati di atas beton. Endi tidak pernah membuang puntung rokok ke laut, seperti ajaran kakeknya, itu akan membawa sial bagi profesinya. Ia lebih memilih membuangnya ke darat atau meninggalkannya begitu saja diatas beton dermaga.

Untuk kesekian kalinya dirogohnya umpan. Cuih!!! Umpan diludahi sebelum akhirnya terlontar masuk kedalam air.

Laut begitu tenang sore itu, biasanya diwaktu seperti ini sebuah kapal penumpang atau kapal barang bergerak meninggalkan pelabuhan.

*
Salah satu keunggulan Rima dalam tebak menebak adalah saat kapal penumpang siap dinaiki. Dari pinggir dermaga kayu tempat kaki mereka bergelantungan, Rima akan menantang Endi menebak berapa menit waktu yang dibutuhkan Panambang yang membawa penumpang dari pantai untuk melakukan sentuhan pertama pada kapal penumpang. Dalam permainan ini Endi selalu kalah. Meski baginya kemenangan selalu ada saat Rima menemaninya menghabiskan sore.

“Kenapa kapal-kapal penumpang selalu menurunkan jangkarnya disana,” tanya Rima di sore yang lain.

Kapal penumpang atau kapal barang memang tidak pernah menambatkan talinya di dermaga. Mereka menunggu di dekat dermaga hanya dengan bertambat pada dua jangkar yang diturunkan.

“Karena mereka takut kutukan”

“Kutukan apa”

Endi memang tidak mahir dalam hal tebak-menebak apalagi hitung-menghitung, namun ia sangat mahir dalam bermain imajinasi. Keahlian ini ia dapatkan dari sang Kakek yang gemar menceritakan dongeng padanya. Dongeng tentang istri yang menjelma nyamuk dan mencari darah sang suami misalnya, selalu menghadirkan sensasi berbeda setiap kali diceritakan, meskipun pun sang Kakek menceritakannya tiap minggu.

“Dahulu,” Endi memulai cerita kutukan yang ia rangkai dari timbunan imajinasinya.

“Hiduplah seorang gadis cantik jelita di Leok. Kecantikan gadis itu tersohor hingga kenegeri-negeri seberang. Para bangsawan dan saudagar kaya nan tampan silih berganti berlabuh di dermaga ini hendak mempersunting si gadis. Dari sekian banyak pemuda yang datang, hanya Dera lah yang berhasil mencuri hati si gadis. Saat itu, Dera, pelaut ulung dari seberang lautan mengumumkan kepada awaknya bahwa dermaga Leok akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Awak kapalnya pun pergi dengan rasa kecewa, sang Kapten telah tertawan oleh kecantikan si gadis.

Atas permintaan si gadis, pesta pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Namun sayang dua hari sebelum pernikahan, Dera dibawa oleh kapal kayu. Sejak itu si gadis mengunjungi dermaga setiap kapal datang berlabuh, sekedar memastikan apakah Dera berada diantara kerumunan penumpang yang turun. Seiring berjalannya waktu, angin laut mengikis kecantikan si gadis, menggantinya dengan gurat-gurat keriput. Di ujung derita penantian si gadis yang sudah renta akhirnya mengutuk dermaga Leok. Setiap kapal yang berlabuh di dermaga ini akan karam di lautan. Itulah sebabnya kenapa kapal penumpang tidak mengikat tali tambatnya di dermaga ini.”

Rima menatap Endi serius.

“Kamu tahu, siapa nama si gadis”

“Menyebut namanya juga bagian dari kutukan”

“Hah, pambohong” Rima mendorong bahu Endi.

Kaki mereka pun kembali aktif bergelantungan di pinggir dermaga. Selalu begitu setiap Endi menyuguhkan cerita imajinya. Rima menikmatinya. Endi tahu itu.

*
Sebatang rokok kembali disulut setelah mengganti umpan baru.
Hasil tangkapan benar-benar menurun. Seekor ikan pun belum ada.

*
Dermaga tempat Endi menghabiskan waktu bersama Rima adalah dermaga kayu tua yang mulai lapuk dan sepi pengunjung, hanya anak-anak dari kampung nelayan yang berenang dan kadang meminta mereka membuang koin kedalam air untuk diperebutkan. Dari dermaga itulah Endi belajar banyak tentang hidup. Merasakan kekuatan yang mungkin dirasakan oleh Mughal Shāh Jahān saat membangun Taj Mahal untuk Mumtaz ul Zamani istrinya, Bandung Bondowoso yang rela membangkitkan Jin untuk membangun seribu Candi bagi Roro Jonggrang, Qais yang rela Majnun dan bersahabat dengan Serigala karena Laila, dan mungkin juga si gadis yang tidak menikah karena kehilangan Dera dalam cerita imajinasinya sendiri. Dermaga itu menjadi tempat baginya untuk mencerap sekaligus menyimpan kekuatan untuk hidup.

Dua tahun Endi menghabiskan waktu bersama Rima, sebelum orang tuanya membawa gadis itu pulang ke Palele untuk dikawinkan. Endi tidak keberatan. Selama waktu itu tidak ada ikrar atau rasa yang terlisan. Hanya kesadaran bersama untuk melewati sore dengan aroma laut, duduk bergelantungan kaki, dan merasai hangatnya sisa panas matahari yang terperangkap dalam kayu-kayu lapuk dermaga.

*
Kembali Endi menghisap dalam rokoknya. Ini kali kedua dalam minggu ini ia mengunjungi dermaga. Ia beringsut, getaran terasa pada jor bambu di tangannya. Satu tarikan, Botiti segar menghampirinya. Segera ia masukkan dalam bakul. Umpan hampir habis, saatnya pulang.

Bangkit dari tempat duduk, Endi menyusuri beton kusam dermaga, melewati pemancing-pemancing lain yang masih bertahan, kemudian membelah kesibukan buruh pelabuhan yang membongkar muatan kapal yang baru bersandar. Disisi kanan dermaga ombak kecil berkejaran, memecah diri pada kubus-kubus beton seukuran televisi yang mengonggok serampangan dipantai.

Tidak ada hal menarik lain. Dermaga ini telah sepi dengan teriakan anak nelayan berebut koin. Aroma kayu lapuk telah berganti beton kokoh. Pun permainan tebak-menebak perjalanan Panambang tidak bisa lagi, karena kutukan si gadis jelita sudah tidak berlaku.

Endi memantapkan langkahnya, segaris senyum tipis tersungging, seekor Botiti cukuplah untuk hari ini, karena “Botiti berarti harapan” kata Rima dengan tafsiran sok tahunya 23 tahun yang lalu.

***

Buol, Mei 2011
Foto ilustrasi: http://untung09.wordpress.com/2010/05/11/pulau-tidung/
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment