Wednesday, February 26, 2014

Ali Syari'ati: Perkawinan Barat, Timur, dan Islam


Jika Indonesia memiliki Tan Malaka, Cuba punya Che Guevara, Afrika Selatan ada Nelson Mandela, dan di India terdapat Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi, maka Iran juga memiliki tokoh revolusioner yang gigih: Ali Syari’ati.



Perkenalan pertama saya dengan Ali Syari’ati adalah saat saya bersama dua orang teman “menyatroni” perpustakaan pribadi seorang senior di lembaga kepecinta alaman. Saat itu saya masih aktif kulaih dan sedang puber-pubernya berdiskusi tentang segala hal. Salah satu buku yang saya pinjam berjudul Peran Cendekia Muslim yang berisi pikiran-pikiran Ali Syari’ati.

Di halaman pengantar tertulis nama Amien Rais tokoh intelektual utama yang berada dibalik demonstrasi 1998 yang menumbangkan presiden Soeharto. Sekilas isi buku ini sangat menjemukan. Tulisan kecil dan rapat hampir memenuhi setiap halamannya. Hampir penuh, sebab marjin atas-bawah, kiri-kanan sangat sempit. Namun ketika membaca isinya selembar dua lembar saya langsung tertarik dan tidak ingin berhenti. Pikiran-pikirannya penuh kejutan dan berani.

Ali Syari'ati lahir 23 November 1933 di Mazinan, Razavi Khurasan, Iran. Ia memulai pendidikannya dari Sekolah Pendidikan Keguruan, kemudian melanjutkan studi pasca sarjananya di Universitas Paris dan meraih gelar doktor bidang filsafat dan sosiologi.

Peran utama Ali Shari’ati dalam sejarah Iran adalah menjadi salah satu motor penggerak revolusi Iran 1979 bersama Ayatullah Khomeini yang menumbangkan pemerintahan monarki yang dijalankan oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi. Pemerintahan monarki Pahlavi saat itu didukung oleh Amerika Serikat dan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman.

Jiwa pemberontakan Syari’ati sebenarnya telah tumbuh saat ia menyaksikan kemiskinan di Iran saat masih menuntut ilmu di Sekolah Pendidikan Keguruan, namun jalan revolusi yang nyata baru ia lakoni saat kembali dari Paris. Kedatangannya ke Iran tahun 1964 langsung disambut dengan penangkapan oleh tentara Pahlavi atas tuduhan melakukan kegiatan subversif saat masih berada di Paris, Prancis.

Setelah dibebaskan tahun 1965 berkat tekanan masyarakat Iran dan dunia internasional, Ia langsung mengajar di Universitas almamaternya Mashhad. Sebagai cendekia yang memiliki analisis kritis dan tajam, Syari’ati menghembuskan pikiran-pikiran revolusionernya. Materi kuliahnya seketika menjadi populer dikalangan mahasiswa hingga kembali dianggap sebagai ancaman oleh penguasa. Setelah dilarang mengajar (akhirnya), Syari’ati memutuskan untuk pindah ke Institut Hosseiniye Ershad. Kembali, kuliahnya menjadi populer, kali ini bukan hanya dikalangan mahasiswa, namun pikiran revolusionernya telah menyebar hampir ke semua lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah dan atas.

Akibat ajarannya, Syari’ati dan beberapa mahasiswa yang mendukungnya harus mendekam dalam penjara. Pada 20 Maret 1975, setelah 18 tahun ditahan, Syari’ati akhirnya dibebaskan dengan syarat tidak boleh mengajar, menerbitkan tulisan, atau melakukan pertemuan-pertemuan baik secara uumu maupun pribadi.

Meski mengalami pengekangan, selama hidupnya Syari’ati sempat menerbitkan berbagai tulisan dan buku. Saat ini kita bisa dengan mudah mendapatkan buku dan tulisan-tulisannya di toko-toko buku. Sebagian buku tersebut merupakan kumpulan ceramah dari pertemuan, diskusi, dan ceramah kuliahnya.

Dalam beberapa bukunya yang saya baca, Syari’ati tampaknya banyak dipengaruhi oleh pemikir barat seperti Franz Fanon, Alexist Carrel, Jean paul Sartre, hingga Karl Marx. Meski begitu Syari’ati memiliki ke khususan yang jarang dimiliki sosiolog Islam lainnya, yakni mengawinkan teori sosial dari pemikir barat dengan keyakinannya, Islam. Al-Qur’an ia jadikan sebagai landasan epistimologi dalam analisis sosialnya.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa ajaran dan buah pikirannya. Dalam buku Peran Cendekiawan Muslim misalnya, Syari’ti dengan tajam dan cerdas menguraikan simbol Habil dan Qabil. Menurutnya kedua putra Adam ini menjadi cikal bakal yang membagi kelompok masyarakat menjadi dua kutub berlawanan: Kapitalis penindas dan masyarakat tertindas. Pemikiran lainya adalah empat penjara manusia dan piramida sosial. Empat penjara manusia menguraikan tentang faktor-faktor yang menghambat manusia untuk berkembang dan akhirnya meninggalkan perannya sebagai pemimpin kebajikan diatas bumi, sementara Piramida Sosial menggambarkan struktur sosial masyarakat yang dikendalikan oleh tirani kekuasaan.

Dalam bukunya tentang Haji, Syari’ati kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai pemikir yang revolusioner. Dalam buku ini, Ia menguraikan bagaimana ritual dan simbol dalam ibadah Haji mengajarkan tentang pembebasan sekaligus penerimaan amanah tanggungjawab untuk membebaskan.

Beberapa tokoh Islam yang menurut saya mempengaruhi Syari’ati adalah Maulana Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal. Dua orang filosof dan juga sastrawan besar ini sempat ia sebutkan dalam beberapa tulisan. Dalam perjuangannya Syari’ati juga tidak bisa lepas dari semangat Ali bin Abi Thalib yang meninggal ditikam saat sedang shalat dan anaknya Imam Husein yang meninggal dalam perang Karbala. Semangat perjuangan Imam Husein di Karbala bahkan disebut-sebut dalam beberapa tulisannya.

Pengekangan yang dilakukan oleh rezim Pahlevi memaksanya untuk hijrah ke Inggris. Tidak lama kemudian, tepatnya di Southampton, selatan Inggris, Syari’ati ditemukan meninggal pada 19 Juni 1977. Ada yang berspekulasi Syari’ati dibunuh oleh agen Savak (tentara khusus) suruhan Pahlavi yang didukung oleh CIA (Amerika) dan Mossad (Israel). Beberapa lagi menyatakan Syari’ati dibunuh oleh pendukung Imam Khomeini yang fanatik. Meski Syari’ati dan Khomeini sama-sama mendorong terciptanya revolusi, namun dalam beberapa hal mereka berseberangan, khususnya ajaran Syari’ati yang egaliter atau menganggap bahwa semua manusia itu sama kedudukannya, tidak terkecuali para Mulla.

Revolusi pecah 2 tahun setelah Syari’ati meninggal. Rezim Pahlavi tumbang digantikan dengan Republik Islam Iran dibawah pimpinan Imam Khomeini. Meski tidak sempat menyaksikan langsung revolusi Iran, namun Syari’ati dipercaya oleh banyak pihak sebagai tokoh kunci revolusi. Imam Khomeini ditemani Murtadha Muthahhari berperan lebih sebagai pemimpin revolusi, namun Syari’ati berperan sebagai pembangun ideologi dan penyebar benih perlawanan dikalangan pemuda, mahasiswa dan kaum terpelajar. Hingga saat ini Syari’ati dikenal sebagai salah satu sosiolog muslim paling menonjol. Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra bahkan menjuluki Syaria’ti sebagai pemikir politik keagamaan (politico religio thinkeri).

Begitulah Ali Syari’ati, dengan usia yang relatif singkat (44 tahun) mampu menorehkan namanya dalam sejarah dan turut mendorong salah satu revolusi terbesar dalam sejarah dunia: Revolusi Iran.
___
Palu, 26 Ferbuari 2014
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment