Tuesday, June 20, 2017

QATAR MENJELMA CHOW YUN FAT



Qatar menjadi trend berbincangan internasional baru-baru ini. Sebabnya, Negara Tanjung yang luasnya setara dua kali pulau Bali ini tiba-tiba diboikot oleh Negara tetangganya. Aksi boikot ini tidak sesederhana konflik Indonesia-Australia, apalah lagi Indonesia-Malaysia, sebab di Timur Tengah, konflik sekecil apapun bisa berdampak global. Makin seringnya topik Qatar disenggol dalam berbagai pembicaraan membuat saya tertarik untuk menuliskannya dalam kaca mata awam saya yang serba minus.

Timur Tengah adalah labirin kepentingan, itulah yang muncul di kaca mata minus saya yang bulat sempurna dengan gagang besi yang ramping. Tanpa kejelian dan panduan arah yang konsisten, kita mestilah mudah terjebak dalam labirin yang rumit dan sulit untuk diurai ini. Untuk itu tulisan Timur Tengah saya yang pertama, meski dengan kaca mata yang juga minus, mungkin bisa digunakan sebagai titik awal tabayyun.


Saya sebenarnya tidak begitu mengenal sepak terjang Qatar di Timur Tengah sebelum ini. Secara sederhana saya membagi Timur Tengah kedalam dua kekuatan besar. Kekuatan pertama dipimpin oleh Arab kepunyaan keluarga Saud, kekuatan kedua dinahkodai Iran negeri para Mullah. Di belakang Arab ada Amerika, sementara Iran menggandeng Rusia.

Dengan kepentingan kubu masing-masing, dua kekuatan inilah yang tarik-menarik dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Negara seperti Mesir, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Iraq, dan Turki berada dalam pengaruh Arab Saudi dan Amerika. Sedangkan Iran yang dibekingi Rusia menyuntikkan pengaruhnya ke Iraq, Suriah, Libanon, dan Yaman.





Sampai disini saya masih meraba persoalan besar apa yang menjadikan Arab Saudi dan kawan-kawan marah besar. Awalnya saya menduga, ini hanya ngambek biasa saja karena persoalan lama yakni organisasi Ikhwanul Muslimin. Bahwa Qatar selama ini menyediakan rumah kedua bagi Ikhwanul Muslimin sejak terusir dari Mesir. Sementara Arab Saudi sangat tidak akrab dengan organisasi ini.

Tapi setelah melihat lebih detail sepak terjang Qatar, kaca mata minus saya yang bulat dengan gagang besi yang ramping sepertinya mulai melihat sesuatu bahwa, konflik Suriah (atau Syiria, sama saja) menjadi ajang perpecahan kubu Arab dan kawan-kawannya. Harus dipahami terlebih dahulu bahwa kedua kubu ini termasuk anggota dan bekingannya terlibat dalam konflik Suriah.

Kubu Arab mendukung pemberontak untuk menggulingkan presiden Bashar al Assad sementara Kubu Iran berpihak pada Assad. Karena banyaknya sponsor yang mendukung pemberontak, maka kelompok ini pun sangat beragam. Jabhat al Nusra termasuk kelompok paling awal yang muncul dalam gerakan menumbangkan Assad. Kelompok ini adalah cabang Al Qaeda di Suriah dan pada akhirnya disponsori oleh Qatar.

Dikemudian hari, hadirlah ISIS dengan dukungan Arab, Amerika, dan Jordan. Tujuannya sama, ingin menumbangkan Assad. Kehadiran ISIS rupanya tidak semulus rencana awal. ISIS digagas oleh pimpinan Al Qaeda Irak, yakni Al Baghdadi. Secara sepihak Al Baghdadi ingin Al Qaeda Irak dan Suriah bergabung di bawah pimpinanya. Disinilah masalahnya, Jabhat al Nusra tidak mengakui kepemimpinan Al Baghdadi, maka kedua kelompok yang lahir dari Rahim yang sama ini saling serang dan saling bunuh. Benih perbedaan mulai terlihat antara Arab dan Qatar.

Pemberontak berperang melawan Assad, sementara dalam tubuh pemberontak pun saling bunuh. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya Suriah. Di tengah kekacauan itu, Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan Jaish al Islam muncul dispinsori juga oleh Qatar. Tujuannya sama, ingin menumbangkan Assad. Lucunya, di lapangan, dua kelompok ini juga tidak akur dengan kelompok pemberontak lainnya, meskipun memiliki cita-cita yang sama.

Bagi Arab kepunyaan keluarga Saud itu, dukungan Qatar ke dua kelompok ini adalah sebuah ancaman, sebab keduanya adalah bentukan dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang sangat dibenci Arab. Keluarga Saud khawatir jika Assad tumbang, Suriah akan jatuh ke tangan Ikhwanul Muslimin. Arab sudah cukup trauma dengan apa yang dilakukan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Ikhwanul Muslimin pula yang menjadi alasan Turki dibawah pimpinan Erdogan akhir-akhir ini mulai membelot dari kelompok Arab. Turki bahkan mengirim pasukannya ke Qatar sebagai bentuk dukungan atas boikot Arab.

Dengan rumitnya kondisi ini, Arab kepunyaan keluarga Saud itu menggelar KTT Negara Arab dengan Amerika pada 20-21 Mei di Raydh. Presiden Jokowi juga hadir saat itu. Hasilnya, KTT berujung pada sebuah deklarasi. Arab dan Donald Trump menuduh Qatar mendukung teroris. Untuk itu Qatar harus menarik dukungannya, jika tidak, mereka akan menerima sanksi berupa boikot.

Untuk mengantisipasi arah KTT Riyadh yang hasilnya sudah diprediksi, Qatar mengambil langkah mengejutkan (setidaknya bagi saya), yakni bertemu Iran di Baghdad beberapa hari sebelum KTT digelar. Yang lebih mengejutkan, Qatar tidak hanya menemui pejabat biasa dari Iran, tapi menemui jendral perang Qassem Soleimani, salah satu orang yang paling menakutkan bagi kubu Amerika dan Arab.




Ditahap ini saya menganggap Qatar masih berada dalam kubu Arab sebab dia membantah semua tuduhan Arab dan Amerika. Tapi jelas Qatar sedang bermain api saat bertemu dengan Iran.

Sekarang Qatar telah menerima hukuman dari tetangganya. Jalur darat dan udara ditutup. Arab dan kawan-kawan bahkan mengirim tentaranya ke perbatasan dengan Qatar. Di sisi lain, negara yang terang-terangan mendukung Qatar adalah Turki dan Iran. Turki mengirim pasukannya ke Qatar, sementara Iran mengirim bantuan makanan. Iran juga bersedia meningkatkan kuota penerbangan dari dan ke Qatar untuk membuka isolasi udara yang diterima Negara tanjung itu.

Begitulah, kerumitan ini berlangsung. Awalnya saya menduga, ini hanya ngambek biasa saja, nanti juga mesra lagi. Tapi kehadiran Iran tidak bisa dianggap biasa.

Manufer apa sebenarnya yang ingin dilakukan Qatar? Keluar dari koalisi Arab bukan keputusan mudah, banyak hal yang ia pertaruhkan. Bisa jadi Qatar akan mengalami nasib sama dengan Tunisia, Yaman, bahkan Suriah. Apakah Qatar akan seberani itu?


Dalam situasi ini, saya melihat sosok Qatar punya kemiripan dengan Chow Yun Fat dalam film God of Gamblers yang fenomenal itu. Mungkin Qatar sudah muak dengan keluarga Saud yang sok kuasa, dengan Amerika yang sok jadi polisi dunia, dan untuk kepentingan negaranya ia mulai menjajaki kemungkinan pindah kubu ke Iran, Rusia, China.

Tapi pindah ke kubu ini juga tidak tepat bagi masyarakat yang sudah biasa hidup hedon. Qatar bisa saja mendapat sanksi ekonomi dari Amerika cs seperti apa yang dialami Iran. Kalau sampai terjadi, saya pesimis akan rencana gelaran Piala Dunia 2022 di sana. Bukan hanya itu, Rossi dan kawan-kawan MotoGP bisa jadi juga tidak nyaman lagi memacu motornya di sirkuit panas Qatar.

Mungkinkah Qatar punya kemampuan supranatural seperti Chow Yun Fat yang bisa memprediksi kartu lawan atau dadu yang akan bergulir? Sebaiknya Qatar punya itu, sebab pertaruhannya sungguh-sungguh besar.

Sementara pertaruhan itu terus berlangsung, saya akan membuka dulu kaca mata minus saya yang bulat sempurna dan bergagang besi yang ramping. Lagipula kopi yang sedari tadi terseduh belum saya hirup. Sebelum mengangkat gelas, saya mencari lagu yang pas untuk mengurangi penat di kening. Bisa tebak lagu apa itu?

It’s all about the money
All about de.. dum.. dum..
Du.. du.. dum.. dum..
[By. Meja]

***
AwengCafe,  Jl. Basuki Rahmat, Palu
20 Juni 2017
24 Ramadhan 1438 H



Gambar dari sini dan sini

1 comment:

  1. cerita yang sungguh berguna sekali ya!

    Jelaz (pasti lebih murah dari tetangga)

    https://shopee.co.id/Jelaz+pasti+lebih+murah+dari+tetangga-col.21280?smtt=1.3090

    ReplyDelete