Friday, January 8, 2016

Philosophy. Ilmu Kuno?


Akhirnya menulis lagi.

Di sela kesibukan saya sebagai notulen Rapat Kerja Tahunan (RKT) Yayasan Merah Putih (YMP), saya merasa ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan projek tulisan saya yang sudah lama tertunda. Tulisan ini sebelumnya saya rencanakan untuk diselesaikan di awal 2013 lalu, kemudian tertunda. Tahun 2014 saya mendapat momentum saat seorang teman berkata “dalam agama filsafat itu ilmu yang terlarang dipelajari”, momentum itu kemudian terlewatkan karena semangat menulis saya belum utuh.


Momentum lain datang di suatu sore di tahun 2014, saat saya menghabiskan waktu sekitar empat jam berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa yang bersikeras bahwa ada sesuatu yang salah dalam filsafat. Bahwa ada kekhawatiran filsafat mencoba menggeser keberadaan Tuhan. Sepulang dari diskusi itu saya merasa inilah momentum paling tepat untuk menulis. Namun lagi-lagi saya belum memiliki keseriusan dan kedisiplinan untuk menuntaskan projek ini. Menumbuhkan semangat menulis kadang terasa sulit. Langkah paling jauh yang saya lakukan saat itu adalah mengumpulkan informasi tambahan dari berbagai situs di internet. Selebihnya saya malah menghabiskan sisa malam berinteraksi di situs jejaring social.

Malam ini justeru saya menulis tanpa banyak tetek bengek ritual pemanasan. Saya bahkan tidak memperbaiki hasil notulensi hari pertama. Saya merasa ada beberapa isu hangat saat ini yang perlu saya tanggapi lewat tulisan, tetapi akan tidak elok menulis catatan baru sementara projek lama semakin jauh tercecer.

Baiklah.

Saya tidak akan membahas filsafat secara menyeluruh disini, karena saya bukan ahli filsafat (filsuf), lagi pula untuk mempelajari filsafat secara tuntas akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Saya juga tidak akan membahas cabang-cabang filsafat yang memang sangat beragam. Namun saya juga masih memegang prinsip tidak akan menulis sesuatu diluar kemampuan pemahaman saya. Jadi saya akan membahas tentang filsafat secara umum, menanggapi beberapa pernyataan dalam diskusi sebelumnya, dan membahas sedikit bagaimana pola pikir filsafat membantu kita dalam memahami sesuatu.


Filsafat di mata awam hari ini dipandang sebagai “cabang ilmu” kuno yang sudah tidak relevan lagi untuk dipelajari, mengingat saat ini ilmu terapan dianggap menjadi kebutuhan yang lebih mendasar dan mendesak. Kata filsafat selalu diidentikkan dengan zaman Yunani kuno, atau pemikir-pemikir berjanggut panjang abad pertengahan. Tidak banyak yang tahu bahwa seorang Isaac Newton yang dijuluki bapak Fisika Klasik adalah seorang filsuf, atau jika itu terlalu jauh saya akan sebut Albert Einstein – seorang ilmuan modern paling terkenal – sebagai filsuf.

Tidak banyak pula yang sadar bahwa apa yang dipelajari di sekolah adalah produk filsafat, apa yang dikendarai sehari-hari adalah produk filsafat, bahkan internet dan semua gadget yang kita pakai saat ini adalah produk filsafat.

Lantas apa sebenarnya filsafat? 

Wikipedia  menjelaskan, filsafat merupakan kata serapan yang ditemukan dalam bahasa Yunani, Arab, dan juga Belanda yang dapat diartikan “cinta kebenaran”. Tidak ada yang tahu pasti kapan awal mula manusia berfilsafat. Will Durant mencatat awal tahun 2880 SM, Ptah-Hotep telah berfilsafat. Menurut saya pribadi Nabi Ibrahim dalam Al Qur’an juga telah berfilsafat saat ia mencari keberadaan Tuhan. Satu hal yang jelas, kata filsafat pertama kali dipakai oleh Pythagoras yang hidup di Yunani sekitar 500-400 SM.

Dari makna di atas saya memahami seorang yang berfilsafat adalah orang yang bersungguh-sungguh ingin mencari kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang segala hal, misalnya apa itu matahari, kemana ia saat malam, bagaimana ia bisa muncul pagi hari, benarkah matahari itu panas, apakah ia punya cahaya sendiri, dari mana cahaya itu berasal, apakah ia berwarna kuning, putih atau merah, apakah benar bentuknya bulat, seberapa jauh jaraknya dari bumi, dan pertanyaan turunan lain yang bisa sangat bervariasi.


Para filsuf ini akan memulai pencariannya dengan mempertanyakan sesuatu sampai ke akarnya yang sering disebut radikal. Mereka tidak menggunakan dogma atau mitos melainkan spekulasi, perenungan, pengamatan, dan akhirnya logika sebagai dasar mengambil kesimpulan. Isaac Newton misalnya menemukan teori gravitasi berawal dari pertanyaan sederhana "Kenapa buah Apel jatuh ke bawah.?"

Gerakan pencari kebenaran ini tidak hanya tumbuh di Yunani atau Eropa pada umumnya namun juga berkembang di China, Mesir, Persia, India, dan belahan dunia lain. Filsafat menjadi sebuah keniscayaan semua peradaban sebab secara alamiah manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Bagaimana Dengan Ilmu Pengetahuan?

Filsafat telah memelihara benih ilmu pengetahuan dalam rahimnya. Sekitar 400-300 tahun SM hiduplah Socrates di Athena yang memiliki murid bernama Plato. Sepeninggal Socrates, Plato menerima murid bernama Aristoteles. Tiga pemikir yang berbeda aliran inilah yang saat ini diyakini sebagai bidan atas lahirnya ilmu pengetahuan.

Filsafat memaklumi perbedaan pendapat, selama niatnya menuju sesuatu yang benar, mereka saling terbuka bertukar pikiran. Para pecinta kebenaran ini berdiskusi tidak dengan semangat menang atau kalah. Yang membuat mereka berbeda adalah cara memandang sesuatu. Mereka pun saling memahami perbedaan itu. Socrates meninggal tanpa meninggalkan satu pun catatan tertulis. Justeru muridnya Plato lah yang menulis buah pemikirannya, meski pun mereka tidak sepemikiran.

Aristoteles meyakini bahwa kebenaran terletak pada materi benda itu sendiri, bukan pada ide seperti keyakinan gurunya Plato. Aristoteles kemudian mengembangkan dasar-dasar penelitian untuk mencari kebenaran dan juga metode analisa yakni memahami sesuatu dengan cara mengurainya menjadi bagian-bagian kecil yang terperinci. Penelitian dan analisa Aristoteles dipakai oleh ilmu pengetahuan hingga saat ini.
Di titik ini saya menyimpulkan bahwa para pencari kebenaran baik itu pemikir jaman dulu ataupun ilmuan modern saat ini, semuanya adalah filsuf yang cinta akan kebenaran. Olehnya patutkah jika dikatakan filsafat tidak lagi relevan untuk dibahas di era modern ini.?




Mitos dan Penolakan Terhadap Filsafat

Cara yang dipakai oleh filsuf banyak disalah artikan sebagai usaha untuk menolak keberadaan agama. Seperti yang dikatakan sebelumnya filsafat memulai pencariannya dengan mempertanyakan segala sesuatu. Ia akan mempertanyakan mitos, kepercayaan, bahkan yang tercantum dalam agama sekalipun. Menurut saya filsafat tidak berkepentingan untuk menolak atau menerima agama begitupun mitos atau kepercayaan lain. Seperti makna filsafat itu sendiri, ia akan bertengger dimana pun kebenaran itu berada. Jika kebenaran didapatkan di agama, maka filsafat akan berada di sana. Tentunya dogma tidak masuk dalam kebenaran filsafat.


Semangat itu pula lah yang ada dalam ilmu pengetahuan modern. Ilmu berkembang secara independen tanpa intervensi dari manapun. Ia harus bebas nilai, tidak boleh terikat nilai budaya, agama, ideologi, dan nilai lainya. Bisa dibayangkan jika Galileo Galilei tidak mengutarakan hasil pengamatannya karena bertentangan dengan Gereja, maka tidak akan ada orang zaman itu yang berkata “Bumilah yang mengelilingi Matahari bukan sebaliknya.” Bisa dibayangkan jika hasil penelitian tentang gerhana matahari harus dimusnahkan karena bertentangan dengan keyakinan bangsa Viking bahwa dewa lah yang memakan Matahari. Bisa dibayangkan jika seorang ilmuan meneliti sesuatu kemudian seorang tokoh agama berkata “Sudahlah, itu sudah digariskan Tuhan, tidak perlu lagi dipertanyakan”. Maka tidak ada yang tahu akan seperti apa jadinya ilmu pengetahuan kita.?

Filsafat harus berjalan sendiri secara otonom begitu pula Ilmu pengetahuan. Kalau pun hasilnya sama dengan yang berlaku dalam agama atau budaya, tidak berpengaruh apa-apa dengan Filsafat dan Ilmu. Justeru agama mesti berterimakasih pada filsafat dan ilmu karena merekalah yang membuktikan bahwa beberapa hal yang ada dalam agama sudah terbukti benar secara ilmiah.

Filsafat dan agama mestinya dilihat sebagai dua elemen yang saling mendukung. Filsafat bertujuan mencari kebenaran dengan metode tertentu, agama pun diyakini sebagai kebenaran. Al Kindi, Ibnu Sina (Avicenna), Al Khwarizmi (Algoritma), Imam Al Gazali, dan Ibnu Rusyd (Averroes) adalah contoh filsuf Islam. Sementara Klement, Agustinus, dan Thomas Aquino merupakan filsuf yang juga beriman Kristen. Dalam keyakinan lain ada Confusius dan Lao Tse di China, dan di India mungkin kita bisa menyebut Ram Mohan Ray dan Mahatma Gandhi sebagai tokoh kebangkita filsafatnya.

Menurut saya semua tokoh ini punya semangat mencari kebenaran, yang berbeda mungkin terletak pada perkembangan pola pikir masyarakat di masanya, dan seberapa jauh mereka bisa otonom dalam mencari kebenaran. Jika dalam agama (Islam) ada tiga tingkatan keyakinan: Ilmal Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin,  maka filsafat berusaha mencapai tingkat tertinggi yakni Haqqul Yaqin.

Lantas Relevansi Filsafat Hari Ini?

Filsafat telah melahirkan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan pun semakin berkembang beranak pinak. Perkembangan ini tidak berarti menafikan peran seorang Ibu. Seperti Ibu pada umumnya, filsafat memendam roh kebijaksanaan, roh “apa” dan “mengapa”? Tanpa itu ilmu akan kering. Ilmu bisa saja tajam seiring semakin spesifiknya pokok bahasan, namun tanpa semangat filsafat ia akan kehilangan roh.

Sebagai contoh, ilmu pendidikan, teori mengajar, hingga aplikasi dalam kelas bisa saja berkembang pesat. Namun jika pertanyaan dasar seperti apa sebenarnya pendidikan? Kenapa harus mendidik? Orang seperti apa yang harus dididik? Orang seperti apa yang harus mendidik? Untuk apa sebenarnya pendidikan? belum terjawab maka ilmu itu akan kering. Para pendidik hanya akan melaksanakan tugas berdasarkan teori yang ia pelajari tanpa tahu makna mendasar dari apa yang ia lakukan.

Salah satu ciri filsuf adalah bisa melihat suatu fenomena secara holistic (menyeluruh), tidak parsial (sempit). Memahami pendidikan tidak sebatas teknik mengajar, memahami arsitek tidak sebatas cara mendesain bangunan, memahami pertanian tidak sebatas cara menanam yang baik, namun memahaminya dari segala aspek hingga tercipta pemahaman yang utuh.

Baca Juga: KITA

Pernakah kita bertanya Untuk apa kuliah? Apa yang kita cari dalam masa perkuliahan? Apa memang harus kuliah? Kalau iya, kenapa itu harus? Kalau tidak, lantas kenapa harus ada kampus?. Atau pertanyaan seperti Kenapa harus ada hukum? Untuk apa hukum dibuat? Perlukah? Atau hanya menambah ribet? Kenapa ada banyak penafsiran berbeda tentang hukum? apa sebenarnya hukum?

Pertanyaan mendasar atas sesuatu setidaknya membuat kita tahu secara filosofis keberadaan sesuatu itu. Kenapa ia harus ada. Pemahaman seperti ini akan mengantarkan kita sebagai orang yang tahu tidak sebatas kulit namun juga bisa memahami lebih dalam arti dan makna sesuatu. Pemahaman yang akan mendorong seseorang menjadi bijak, yang juga merupakan arti lain dari filsafat yakni “Cinta akan Kebijakan”.

___
Palu, 8 Januari 2016
00.14 am
Gambar: Disini

2 comments: