Wednesday, August 4, 2021

HABIB SAGGAF DAN KAUM ORI


Akhirnya sepak terjang kaum ORI menjadi polemik juga di kota Palu setelah komen salah satu dari mereka yang mensyukuri kematian Habib Sayid Saggaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri di Facebook.

Komentar ini sontak membuat anak-anak Al Khairaat yang sering disebut Abnaul Khairaat, meradang. Sebenarnya bukan kali ini saja kaum ORI melecehkan ulama. Beberapa tahun lalu mereka juga melecehkan kakek dari Habib Saggaf yakni Habib Idrus bin Salim Aljufri yang akrab dikenal dengan Guru Tua di media sosial. Mereka mempersoalkan acara haul yang katanya bid'ah. Kasus ini juga sempat menghebohkan Abnaul Khairaat saat itu. Tapi kali ini kehebohannya berbuntut panjang, pelaku sampai terancam amuk massa dan sudah diamankan di kantor polisi.




Siapa kah Kaum ORI ini?


Mereka adalah kaum yang (merasa) mengemban amanah me-MURNI-kan ajaran Islam. Karna misi memurnikan jadi secara otomatis mereka akan menyerang siapa saja yang dianggap tidak murni. Sebagian menyebut mereka Wahabi, ada yang bilang Salafi, macam-macam, tapi apapun itu ciri mereka sama. Mereka sebenarnya sudah lama masuk ke Indonesia namun baru beberapa tahun belakangan gerakannya mulai mencolok. Khususnya saat media sosial dan youtube jadi trend untuk menyebar paham dan ajarannya. Mereka ahli disini. Membuat video-video, menyebar pahamnya lewat pamflet-pamflet, dan banyak orang tidak sadar masuk perangkapnya.


Senjata andalan mereka adalah kata BID’AH. Dalam Islam bid’ah artinya sesuatu yang diada-adakah atau dikurang-kurangi dalam beragama. Dengan senjata ini kaum ORI banyak menyasar pengajian-pengajian, pesantren-pesantren, bahkan ulama-ulama besar dengan tuduhan penyebar Bid’ah. Di pulau Jawa sudah tidak terhitung lagi ulama senior dan sepuh yang mereka lecehkan.


ORIGINAL

Kaum ORI ini biasanya mengajukan argumen “kembali ke Quran dan Sunnah”. Sekilas argumen ini memang benar dan tidak mungkin salah karna memang dua sumber itu adalah rujukan paling utama dalam Islam. Quran (firman Tuhan) dan Sunnah (ajaran Nabi).


Sayangnya mereka hanya berhenti disana, tidak menerima rujukan lain selain dua sumber utama itu. Mereka menolak kitab-kitab ulama besar yang banyak jadi rujukan di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Padahal Quran butuh penjabaran oleh Sunnah, sementara Sunnah butuh ulama mazhab untuk memghimpun dan memaknai teks-teksnya.


Sebagai contoh Quran tidak pernah menjelaskan detil bagaimana gerakan shalat, Sunnahlah yang menguraikannya. Begitupun Sunnah tidak pernah mengajarkan azan pakai speaker, tidak mengajarkan masjid dibangun seindah istana dengan lantai marmer, tidak mengajarkan dakwah dimedia sosial, tidak pernah melarang lem Fox untuk dihirup, tapi ijtihad ulamalah yang memutuskan. 


Dengan kata lain tanpa Sunnah (hadits) tidaklah mungkin kita bisa memahami Quran seperti hari ini, dan juga tanpa ulama besar bagaimana kita bisa sampai pada Sunnah.


SUNNAH

Sunnah adalah tuntunan dan ajaran nabi Muhammad lewat perkataan dan perilakunya dalam menyikapi suatu persoalan. Tuntunan inilah yang disebut dengan Hadits.


Saat ini kita dengan mudah mengetahui apa saja tentang Islam lewat internet. Kita dengan mudah menyebutkan bahwa ada 7 ribuan hadits nabi yang sahih (terjamin benar) yang dikumpulkan Bukhari. Kita tinggal mengetik “Shahihain” di google maka muncullah kompilasi hadits ternama dari dua pakar hadits yakni Bukhari dan Muslim.


Kita tidak pernah tahu bahwa imam Bukhari yang hidup 180 tahun setelah nabi meninggal butuh 16 tahun untuk menyortir SATU JUTA hadits, dan memilahnya dari yang paling lemah sampai yang paling shahih (terjamin benar). Jadi bagaimana mungkin kita kembali ke SUNNAH tanpa melewati ulama-ulama tradisional ini. Sementara ulama-ulama seluruh dunia hari ini memakai kumpulan hadits-nya sebagai rujukan.


Salah satu yang level ilmu Quran dan haditsnya paling tinggi adalah Imam Syafi’i, guru dari Imam Bukhari. Imam Syafi’i adalah pendiri satu dari 4 mazhab paling utama dalam Islam.


MAZHAB

Sepeninggal nabi tahun 632 masehi, terdapat banyak tafsir dan cara beragama yang berlainan satu sama lain yang tersebar di berbagai wilayah arab. Tergantung sejauh mana mereka menerima ajaran nabi dan sebanyak apa hadits yang mereka tahu.


Khawatir dengan banyak penyimpangan maka muncullah beberapa ulama yang mendedikasikan hidupnya mencari dan meneliti tata cara beragama sesuai ajaran nabi dari berbagai sumber. Hasil penelitian inilah yang dijadikan pedoman, diajarkan, lalu menjadi mazhab.


Ada 4 mazhab utama dalam Islam Sunni. Keempatnya adalah:

Mazhab Hanafi (Abu Hanifah tahun 699-767)

Mazhab Maliki (Imam Malik tahun 711-795)

Mazhab Syafi’i (Imam Syafi’i tahun 767-820)

Mazhab Hambali (Ahmad bin Hanbal tahun 780-855)


Semua Imam mazhab menghafal Quran dan mengerti teks dan konteks setiap ayatnya. Mereka juga menghafal banyak hadits dan mengerti teks dan konteks masing-masing hadits. Tanpa kapasitas dan ilmu tersebut bagaimana bisa kita mengklaim ini salah dan itu salah, sementara masing-masing imam Mazhab tidak berani mengklaim mazhabnya yang paling benar.


Alih-alih saling menyesatkan, para imam mazhab ini justru saling memuji bahkan saling berguru satu sama lain. Imam Syafi’i misalnya, menghafal Quran beserta tafsirnya diusia 7 tahun dan diusia 15 tahun sudah diizinkan oleh ulama untuk berfatwa (membuat hukum sesuai ilmu yang dimilikinya).


Imam Syafi’i membedah kitab Al-Muwaththa yang berisi ribuan hadits di depan Imam Malik hanya dalam 9 malam. Imam Malik menyusun kitab ini selama 40 tahun. Setelah menguasai mazhab Maliki, imam Syafi’i berangkat ke Iraq dan belajar Mazhab Hanafi. 


Dari perjalanan belajar puluhan tahun dan puluhan guru Imam Syafi’i akhirnya mendirikan Mazhab sendiri. Inilah mazhab yang menyebar dari Yaman ke Afrika, hingga ke Asia Tenggara, Indonesia, dan Palu dengan Al Khairaat sumber utamanya.



Kitab Kuning (kitab gundul) yang berisi karya ulama besar mazhab Syafi’i hingga saat ini dijadikan rujukan dalam kurikulum-kurikulum pesantren. Lalu siapakah kita berani mencela para alim ulama.


Kaum ORI kebanyakan berguru lewat youtube dan medsos. Mereka mempersoalkan bid’ah seperti, ziarah kubur, acara selamatan, bakar dupa, peringatan Haul, dan tahlilan yang mereka klaim tidak pernah dilakukan dan diajarkan nabi sebelumnya.


Mereka hanya mau memahami teks hadits saja tanpa mau membaca kitab para ulama tradisional yang sudah sejak lama membahas hal tersebut panjang lebar. Kaum ORI ini tak segan-segan mencela ulama besar bahkan mencela ulama sekelas Imam Syafi’i dan imam Gazali. Mereka tidak mau tahu yang namanya Ijtihad, Ijma dan Qiyas. 


Mereka memiliki ulama-ulama favorite di YouTube, dalam kasus di Palu pelakunya mengidolakan ustad Basalamah. Bukan berarti ustad Basalamah buruk tapi kebanyakan kaum ORI ini memang mengidolakannya.


Kasus di Palu hari ini adalah peringatan kepada anak-anak Al Khairaat bahwa di luar sana banyak masyarakat awam yang sudah terinveksi kaum ORI. 


Ini juga sekaligus peringatan bagi kaum ORI bahwa belum waktunya bermain vulgar, kalian masih harus bermain halus, melakukan pertemuan dakwah kecil-kecilan di rumah-rumah, karna di luar sana ulama-ulama besar masih punya pengaruh hingga ke kampung-kampung. Kalian bisa saja melihat mereka sebagai pemabuk tapi jika ulama yang mereka hormati kalian lecehkan, maka bayarannya akan sangat mahal.


Satu lagi, jika akademik sangat mementingkan rujukan primer dalam penelitian, Islam juga sangat ketat dalam SANAD ke ilmuan. Sanad ini bisa diartikan "Silsilah Keilmuan", seorang alim harus jelas silsilah keilmuannya. Guru dari guru dari guru, mesti jelas, hingga sampai kepada Nabi Muhammad, tidak boleh putus. Jadi jika sanad keilmuan kita hanya putus di media sosial jangan berani melecehkan, menyesatkan, dan mengkafirkan orang lain. Bisa fatal, kalau sampai menyesatkan orang lain pertanggungjawabannya sampai dunia akhirat.


Berikut video kiyai NU menjawab perilaku kaum ORI, klik disini

____

Palu, 4 Agustus 2021

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment