Friday, January 15, 2021

LOGIKA PEMBUNUH DAN PENGINGKARAN



Greta Thunberg muncul dari sudut antah berantah, menjadi viral dan menginspirasi jutaan orang dari ratusan negara. Setelah sekian lama para ilmuan, peneliti, dan pakar klimatologi berteriak tentang Perubahan Iklim yang berjalan terlalu cepat tanpa respon yang baik, tiba-tiba di pertengahan tahun 2018 seorang anak umur 15 tahun bergerak. Ia memulai gerakannya dengan bolos sekolah setiap hari Jumat dan duduk di luar gedung Parlemen Swedia membawa poster bertuliskan Skolstrejk för klimatet. 

Aksi inilah yang melahirkan gerakan Friday for Future lalu memicu gelombang besar kesadaran kaum muda secara global.

Mewakili aspirasi generasinya, Greta menghentak forum PBB yakni UN Action Climate Summit di New York, September 2019 lewat ungkapan terkenalnya How Dare You. Ungkapan ini ia keluarkan dua bulan menjelang COP 25 di Madrid, Spanyol. 

Di luar gedung pertemuan, diperkirakan ada 4 juta orang di 150 negara turun ke jalan mendukung perjuangan Greta selama beberapa hari.


Awalnya Greta mengetahui Perubahan Iklim tahun 2011 saat ia masih berumur 11 tahun. Mengetahui sedikit sekali orang yang peduli bahaya dari Perubahan Iklim Greta akhirnya mengurung diri, malas bicara dan malas makan, berat badannya turun 10 kilogram dalam dua bulan. Greta lalu didiagnosa mengalami beberapa gangguan psikologi, diantaranya Selective Mutism atau sulit berkomunikasi, susah bergaul, dan hanya mau berbicara dalam kondisi-kondisi tertentu.


Pidato How Dare You (Beraninya Kalian) Greta di forum PBB memiliki pesan sangat lugas, berikut transkripnya:

 

“Harusnya saya tidak berada disini, harusnya saya berada di sekolah jauh di seberang lautan sana… Kalian telah mencuri mimpi dan masa kecilku dengan omong kosong kalian. Manusia sedang sekarat, sedang menderita, seluruh ekosistem terancam punah dan hancur dan yang kalian bicarakan masih seputar dongeng tentang pertumbuhan ekonomi, Beraninya Kalian.

... 

Kalian mengaku paham situasi genting ini, saya tidak mau percaya itu, karna jika kalian paham situasinya dan tetap gagal bertindak, maka kalian sama dengan iblis dan saya menolak untuk percaya.

... 

Beraninya Kalian berpura-pura bahwa masalah ini bisa diselesaikan saat kalian masih menjalankan bisnis seperti biasa. Tidak akan ada solusi atau rencana yang akan muncul di forum ini, karna angka ini terlalu besar dan kalian tidak cukup dewasa untuk mengakuinya.

 

Tapi generasi muda sudah mulai memahami pengkhianatan kalian. Mata kami generasi muda sedang mengawasi kalian, dan jika kalian memilih untuk berkhianat, maka kami tidak akan pernah memaafkan kalian. Saat ini, detik ini, kami akan tetapkan posisi kami. Dunia telah membuka mata dan perubahan akan datang suka atau tidak. 


Terimakasih

Baik politisi dunia dan pejuang lingkungan sendiri terkejut dengan pidato Greta ini. Selama beberapa minggu Greta menjadi topik baik di media sosial maupun di berita-berita luar negeri. Euforia ini diperkirakan banyak orang akan menjadi titik balik perjuangan lingkungan. 

Melihat kondisi ini, politisi dan dunia usaha yang merasa terancam dengan isu Perubahan Iklim bertindak cepat. Ia lalu menjadi bulan-bulanan politisi dan sebagian influencer di internet. Bahwa Greta hanyalah anak kecil yang tidak tau apa-apa atau Greta memiliki "gangguan Jiwa".

Para politisi konservatif sayap kanan yang loyal terhadap Trump segera merapatkan barisan. Dalam siaran TV Fox News, Michael J. Knowles misalnya mengatakan bahwa isu Perubahan Iklim harusnya disuarakan oleh ilmuan bukan anak kecil dengan gangguan mental. Karna pernyataan ini Chanel berita Fox News bahkan harus meminta maaf secara terbuka.

Politisi konservatif lain, seperti Daniesh D’Souza tak mau ketinggalan. Dalam twitter-nya Souza menulis Greta dipilih oleh gerakan kiri karna penampilan dan latar belakangnya mirip dengan anak dalam poster propaganda Nazi oleh Hitler di Jerman

Sebastian Gorka, mantan asisten presiden Trump yang terkenal kontroversi dalam twit-nya menulis gerakan Greta sangat menarik bagi korban pencucian otak pengikut Mao (Tokoh komunis China)


Lalu apa respon Greta?
Greta melontarkan Logika Pembunuh


Sebuah logika sederhana yang bisa menghentak dan mematahkan argument saat itu juga. 

Contoh argument pembunuh adalah saat Nelson Mandela datang ke Amerika dan ditanya, kenapa Mandela memuji Muammar Khadafi, Yaser Arafat, dan Fidel Castro sebagai pejuang HAM sementara banyak laporan yang menyatakan mereka itu justru para pelanggar HAM

Mandela menjawab dengan tenang, “Salah satu kesalahan adalah berpikir bahwa musuh kalian harus menjadi musuh kami. Kami punya perjuangan sendiri yang kami hadapi dan mereka tidak hanya mendukung kami secara retorika tapi menyediakan sumber dayanya untuk kami. Perlakuan kami terhadap negara lain ditentukan dari perlakuan negara lain terhadap perjuangan kami.”

Greta diumur yang masih sangat belia menurut saya berhasil menjadi anak ajaib yang mampu memproduksi logika pembunuh. Dalam pertemuan Committee Hearing misalnya, Greta mewakili tokoh muda dan mengatakan kepada kongres Amerika bahwa “Saya tidak ingin kalian mendengarkan saya, saya ingin kalian mendengarkan ilmuan, dan bersatu mendukung para ilmuan, ini bukan opini politik, ini hasil penelitian.”

Penyumbang emisi terbesar di dunia adalah China kemudian disusul Amerika. Olehnya banyak yang menyarankan Greta untuk mengarahkan kritikannya ke China. Dalam semangat itu Graves, anggota kongres Amerika di pertemuan Committee Hearing mengungkapkan sebuah metafor kepada Greta "jika ada kapal lain yang membuang sampah lebih banyak maka harusnya kita fokus pada kapal itu"

Greta menjawab “negara saya Swedia sangat kecil, saat saya melakukan protes, mereka malah berkata harusnya Amerika yang lebih dulu bertindak, jadi argumen anda ternyata bisa berbalik menyerang anda sendiri.” SKAK MAT

Saat wawancara dengan saluran TV Jerman, Tagesschau, Greta kembali menunjukkan ketenangannya. Saat host bertanya apakah menurut Greta target penurunan emisi 55% di tahun 2030 itu cukup. Greta menjawab “pendapat saya tidak menarik dan sangat tidak relevan menjawab ini, mestinya yang dilihat adalah apakah capaian itu sesuai dengan rekomendasi para ilmuan yang di sepakati dalam Paris Agreement atau tidak.” SKAK MAT

Greta sempat tersudut saat ditanyakan apakah akan ada perubahan strategi karna setelah dua tahun gerakan Skolstrejk för klimatet belum ada hasil yang dicapai. Greta menjawab “...Jika kita menganggap gerakan kecil ini bisa membawa perubahan maka sebenarnya kita belum paham apa masalah Perubahan Iklim.” SKAK MAT

Tak berhenti disitu, Host membuat pertanyaan menantang lainya seperti apa strategi Greta agar bisa membangun kesadaran orang dewasa. Di titik ini Greta tidak bisa lagi menahan diri dan menyerang balik “Jika platform media dan orang-orang berkuasa tidak memperlakukan situasi ini sebagai kondisi krisis, maka kita akan susah mencapai kesadaran kolektif. Kita butuh semua pihak, karna akan absurd sekali jika kita percaya anak-anak bisa menyelamatkan planet, mohon maaf saya harus mengatakanya” SKAK MAT


Ia juga ditanyakan apakah pujian banyak orang kepada gerakan Friday for Future, itu tulus? Greta menjawab "...jika mereka menyatakan mendukung gerakan ini dan memberi semangat maka itu bagus, tidak penting mengukur ketulusan." SKAK MAT

Ia pun ditanya pendapatnya tentang kanselir Jerman Angela Merkel yang pernah ia temui. Greta menjawab, "saya tidak ingin mengomentari pribadi seseorang secara spesifik karna tidak seharusnya saya melakukan itu, tapi secara umum para pejabat yang berkuasa tidak memiliki kepekaan terhadap krisis ini." SKAK MAT

Dan pertanyaan paling menarik: Apakah Greta merasa frustasi melihat pemimpin dunia begitu cekatan menangani Corona namun sangat lamban menangani Perubahan Iklim. 

Jawaban tak terduga Greta “Tentu tidak, itu logis sekali, saat kita menganggap sesuatu itu krisis maka kita akan menanganinya dengan cepat, tapi perubahan Perubahan Iklim tidak dianggap krisis maka pemimpin tidak akan bergerak, fenomena ini tidak mengejutkan.” SKAK MAT

Ketenangan Greta menjadi kekuatan utamanya. Jika benar tuduhan bahwa Greta adalah kader gerakan kiri, menurut saya butuh perjuangan luar biasa mengkader anak 16 tahun untuk bisa berargumen dengan baik, logika yang kokoh, dan tenang. 

Faktor psikologi seperti Asperger's Syndrome dan Selective Mutism yang disebut Michael J. Knowles sebagai "gangguan mental” menurut saya menjadi alasan yang logis dari kemampuan Greta.

Namun euforia Greta dipaksa berakhir. Serangan pandemi Covid-19 ke seluruh dunia membuat Skolstrejk för klimatet kehilangan momentum. Apalagi di awal Maret 2020, Greta menghimbau agar gerakan ini tidak boleh turun kejalan dalam bentuk fisik sebelum pandemi berakhir. Tensi debat Perubahan Iklim yang sempat memanas pun mulai samar terdengar.



Saya pribadi percaya sepenuhnya akan proses alami Perubahan Iklim dan juga mengamini bahwa aktifitas manusia mempercepat proses itu.

Terlepas dari keputusan internasional terkait Perubahan Iklim, menurut saya serangan dan bully-an terhadap Greta tidak seharusnya dilakukan. Kalaulah ada Ironi Peradaban, menurut saya inilah yang paling Epic: That we are so ignorant.

Baca Juga: IRONI EPIK PERADABAN

Ignorant dalam Bahasa Arab bisa diartikan sebagai Kafir atau orang yang hatinya tertutup atau sengaja ditutup, istilah yang lebih trend di negeri ini ketimbang kata Emisi.

Pernyataan “Kalau masalah Perubahan Iklim harusnya yang bicara ilmuan, bukan anak usia sekolahan” menunjukkan betapa ingkar, ignorant, dan kafirnya kita. 

Sebuah Ironi yang tak terperikan.

____

Desa Sambo, 14 Januari 2021

Gambar dari:

Sini

Sini

Sini

Sini

Sini

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment