Friday, April 6, 2018

HIRUK PIKUK MENDADAK PUITIS


Akhir-akhir ini puisi “Ibu Indonesia” karangan Sukmawati Soekarno Putri memenuhi semua sudut media, baik itu media sosial, media online, media cetak, maupun media elektronik. Penuh, sesak. Tidak ada ruang untuk bernafas. Saya pun memutuskan untuk membahasnya, dari pada jadi bisul yang nyut-nyut.

Hal pertama yang saya tangkap dari fenomena ini adalah, banyak orang yang mendadak jadi ahli puisi. Banyak yang memplesetkan puisi ini, banyak yang membuat vlog di youtube yang menentang, banyak juga yang membuat puisi tandingan.

Puisi kok ditanding-tandingkan.

Yang paling lucu, saya terima pesan WA dari seseorang yang menuduh bahwa si Sukmawati putri seorang proklamator itu ternyata plagiat, menjiplak puisi Irene Radjiman, tak lupa dengan kalimat penutup "bagikan informasi ini agar semua tahu..."

Ya Allah, mau jadi apa ummat?



Pertama saya ingin mengatakan Puisi itu tidak bisa dipisahkan dari konteks pengarangnya dan konteks situasi dimana puisi itu dibuat. Sukmawati adalah putri dari seorang proklamator yakni Soekarno yang pemikirannya terkenal dengan penyatuan Indonesia. Mempromosikan budaya dan nilai luhur nusantara hingga ke forum PBB. 

Saya melihat Sukmawati dari bingkai semangat ayahnya tersebut. Dalam klarifikasinya, Sukmawati menyatakan bahwa puisi ini ia buat untuk merespon situasi dimana pengetahuan kebangsaan semakin pudar dikalangan generasi. Menumbuhkan kembali kesadaran agar generasi tidak melupakan identitasnya sebagai putra putri nusantara.

Dalam konteks situasi yang melatarbelakangi munculnya puisi tersebut, saya melihat Sukmawati merespon meningkatnya isu agama dan keinginan untuk mendirikan negara khilafah. Puisi ini dibuat di tahun 2006, di masa itu kitab Daulah Islam karya Taqiyuddin an Nabhani pendiri Hizbut Tahrir sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Konteks itulah yang saya lihat melatar belakangi kemunculan puisi ini.

Bahwa puisi ini adalah cerminan dari semangat seorang Sukmawati untuk menggugah generasi agar mencintai Indonesia dengan berbagai nilai luhurnya. Pemakaian simbol agama Islam menurut saya adalah cara Sukmawati untuk menetralisir tumbuhnya semangat mendirikan Khilafah di bumi pertiwi.

Puisi ini menurut saya menyampaikan pesan bahwa jika bicara Indonesia, maka semangat ke Indonesiaan lah yang harus dikedepankan. Jika bicara hukum, maka UUD dan Pancasila lah yang mesti dipegang. 

Tapi kemudian puisi ini memicu ketersinggungan dari ummat. Alumni 212 yang terkenal itu, turun kejalan melakukan unjuk rasa. Di youtube banyak respon yang menghujat Sukmawati dengan hujatan yang beraneka ragam. Padahal puisi ini dibuat tahun 2006.

Puisi sendiri adalah produk sastra yang berbeda dengan prosa. Kalau prosa menggambarkan sesuatu dengan runut dan gamblang, maka puisi menggambarkan sesuatu dengan caranya sendiri. Maknanya tidak bisa diterjemahkan seperti kita mendengar pidato atau orasi di jalanan. 

Puisi muncul saat komunikasi konvensional sudah tidak mempan, ketika kata sudah beku. Seperti mawar yang diberikan seorang pecinta kepada sosok yang dicintai. Mawar adalah bahasa lain yang ia gunakan saat kata-kata tak mampu lagi ia rangkai. Pada tingkat ekstrimnya bahkan Puisi pun tidak lagi berharap ia bisa dipahami. 

Puisi bukanlah karya ilmiah yang maknanya terang benderang. Puisi adalah sastra yang memiliki kedalaman makna, tidak hanya makna eksplisit (tersurat) tapi juga makna implisit (tersirat). Sifat ini jugalah yang membuat ayat-ayat Al Qur’an kaya makna dan tak akan pernah habis untuk dikaji.
Maka, menjadi aneh jika puisi dibalas dengan logika orasi atau logika curhat anak sekolahan.

Misalnya potongan syair “Aku tak tahu Syariat Islam” dibalas dengan kalimat “Kalau tidak tahu ya belajarlah…” 

Sebagian lagi mendadak jadi penyair, membuat puisi balasan untuk menyerang pribadi. Puisi diperlakukan tak ubahnya debat politik yang saling balas argument. Kalaupun puisi Sukmawati itu dianggap menghina agamanya sendiri, mestinya pembahasannya harus dari kacamata sastra juga. Bukan malah membahasnya secara liar dengan argumen dari orang-orang yang tidak pernah membuat puisi, bahkan membacanya pun tidak pernah.

Tapi di luar dari semua itu, saya juga maklum bahwa di tahun politik seperti ini, semua hal bisa dijadikan cela untuk menyerang. Semua isu bisa diputar kiri kanan untuk kepentingan pesta politik yang semakin dekat. Dan kita tahu kemana arahnya semua ini.

Saya tidak bisa bayangkan jika para penyair besar menelurkan karyanya di tahun politik seperti saat ini. Pasti akan diserang habis-habisan.

Lihat saja beberapa potongan puisi berikut:

selusin toga
me
nga
nga
seratus tikus berkampus
diatasnya
dosen dijerat
profesor diracun
kucing
kawin
dan bunting
dengan predikat
sangat memuaskan

Puisi berjudul Doktorandus Tikus karya Floribertus Rahardi tahun 1983 ini pasti akan dituding menghina institusi Pendidikan.

Saudara-saudaraku puisi adalah bau anyir keringat berjuta rakyat
puisi adalah kehidupan mereka yang alot dan berat
adalah pikiran dan tenaga mereka yang sekarat
puisi adalah darah luka mereka yang muncrat

atau 

Cukuplah ia – kata seorang teman
Lahir dari angin
Tapi sahabat lagi mengklaim
-- syair ialah berak

Berak nasib
Orang-orang terpilin

Potongan puisi berjudul Sajak Luka Menganga dan Syair Maling karya Emha Ainun Najib ini pasti akan dituding menghina puisi dan sastra.

Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir

Atau 

Tuhan sudah sangat populer
Nama-Nya dihapal luar kepala
Sehingga amat jarang ada orang
yang sungguh-sungguh mengingat-Nya

Atau

Penyair pun bukan
Aku hanya tukang
Mengembarai hutan
Menggergaji kayu
Bikin ragangan
Mainan pesanan Tuhan


Puisi berjudul Kubuang-buang dan Tuhan Sudah Sangat Populer dan Penyair pun Bukan karya Emha Ainun Najib ini pasti akan dituding menghina tuhan.

Atau lebih sadis lagi puisi seorang ulama besar berikut:

Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.

Atau 

Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang Maha Indah, maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri.

Dua potongan puisi di atas jika muncul hari ini pasti akan dihujat habis-habisan dan dibuatkan vlog balasan dengan logika jalanan. Meskipun pemilik puisi tersebut adalah ulama besar sekelas Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering disebut Maulana Jalaluddin Rumi.

Begitulah jika waktu sudah memasuki tahun politik, semua orang jadi sensitif dan latah. Saat seperti inilah puisi jadi pelarian agar nalar kita sejenak istirah dari hiruk pikuk yang bisa mengurangi kewarasan.

Untuk itu saya akan menukil satu puisi pendek dari budayawan favorit di kota kecilku Palu.

PAGI

Aku mencintai pagi, seperti cinta pagi menunggu matahari.
Selamat  pagi

Pernahkah kita benar-benar menghayati 'selamat pagi' tidak sekadar 
sebagai ucapan, tetapi juga sebagai kecupan?

Pagi ini, Kalau ada yang lebih berdusta dari diri, dia adalah koran pagi.
Jika ada yang lebih membakar dari matahari siang nanti, itu televisi, sampai malam hari.

Pagi ini, andai ada yang lebih bau dari tai, itu pasti PUISI.


Diambil dari buku puisi "Setiap Rindu Mungkin Diciptakan Tuhan dari Seekor Ulat Bulu yang Bermertamorfosa Jadi Kamu" karya Neni Muhidin yang dicetak tahun 2012.

Salam Sajak

___
Palu, 6 April 2018
Gambar dari screen HP dan dari sini
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment