Friday, January 4, 2013

Cocologi Avatar: Renungan Tahun Baru


Menonton film avatar pada sebuah stasiun TV swasta di malam tahun baru menjadi satu perenungan tersendiri. Meski saya telah beberapa kali menonton film ini, namun baru kali ini saya memantapkan niat untuk menuangkannya dalam tulisan.

Avatar merupakan salah satu film yang masuk dalam kategori film terlaris sepanjang masa dalam Box Office. Meski belum tahu kategorisasi perfilman, saya mencoba menyebut film ini sebagai sains fiksi gabungan dari animasi dan realis. Sebagai film fiksi, Avatar memiliki sisi menarik yang membuat saya tertarik menulis sambil iseng melakukan cocologi dengan realita. Namun sebelumnya saya tulis dulu sekilas tentang ceritanya.

Film ini bercerita tentang sebuah wilayah eksotik yang aneh bernama Pandora dengan mahluk dan penghuni yang tak kalah aneh. Hutan tropis yang hijau, pohon raksasa, binatang aneh, manusia hijau berekor dan daratan yang mengapung diudara adalah beberapa bukti keanehannya. Namun dibalik semua itu wilayah ini menyimpan sumberdaya berlimpah yang menggiurkan bagi manusia modern yang haus akan pengembangan penelitian dan eksploitasi sumberdaya alam.

Kekayaan sumberdayaalamnya mengundang manusia modern untuk menguasai wilayah tersebut. Untuk menguasainya, dibutuhkan informasi tentang kehidupan “Green Mongkey” atau kera hijau sebutan manusia modern bagi bangsa Navi yang diam di dalam hutan tersebut. Bangsa Navi telah lama hidup, membentuk masyarakat dan peradabannya sendiri. Satu-satunya cara mendapatkan informasi adalah dengan menyusup kedalam masyarakatnya dan mendapatkan informasi langsung dari sana. Jake Sully, seorang mantan marinir yang cacat mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas ini.

Selain menggali informasi, Jack juga bertugas untuk mempengaruhi masyarakat lokal agar setuju untuk direlokasi atau dipindahkan dari hutan mereka. Dengan bantuan teknologi modern, Jack menjelma menjadi mahluk hijau berekor. Mahluk inilah yang menjadi avatar atau perwakilan jack, sedangkan Jack sendiri terbaring dalam tabung di ruang khusus berisi alat-alat berteknologi tinggi.

Situasi menjadi rumit bagi Jack dan tugas yang ia emban saat ia secara naluriah menyadari bahwa mahluk hijau berekor yang ia temui bukanlah hewan yang dengan mudah diabaikan kehendak dan dilanggar haknya. Jack menyadari “kera hijau” ini juga adalah mahluk yang memiliki perasaan, peradaban, dan tata aturan tersendiri yang mengatur hidup masyarakatnya selama berabad-abad. Dan yang peling penting adalah mahluk ini tidak bisa dipisahkan dari hutan yang memberi mereka hidup. Tanpa hutan, mereka akan kehilangan identitas, kehilangan makna hidup bahkan kehilangan hidup itu sendiri. Selanjutnya bisa ditebak bagaimana rumitnya konflik yang ditemui Jack dalam tugasnya.

Menyaksikan film ini, saya tertarik untuk menghubungkannya dengan konteks perjalanan peradaban manusia. Dari awal rangkaian konflik dan masalah yang ada dalam film ini seolah mewakili contoh kasus dari apa yang terjadi dimasa lalu hingga hari ini. Dari pengertian yang saya temukan di internet, Avatar bermakna titisan, reingkarnasi, atau perwakilan. Bukan hanya merujuk pada jelmaan Jack yang menyusup kedalam msyarakat lokal penghuni hutan, kata avatar menurut saya juga dapat digunakan untuk materi film ini sendiri.

Mungkin sang penulis naskah, atau yang punya ide cerita atau sutradara atau siapapun yang bertanggungjawab atas lahirnya cerita ini ingin menyampaikan sebuah contoh, sebuah avatar, atau perwakilan atas apa yang telah terjadi dan sedang terjadi.

Jika memang seperti itu, maka Avatar memang menjadi judul tepat untuk menggambarkan film ini. Cocologinya adalah Avatar bisa menjadi perwakilan aktifitas menjajahan dan perebutan wilayah sepanjang peradaban manusia. Sebut saja misi “perebutan” tanah suku Indian, penduduk asli benua Amerika oleh serdadu militer kerajaan Inggris yang dirintis oleh Colombus. Atau penjajahan masa kolonialisme di Afrika, Asia termasuk Indonesia.

Umumnya dalam kasus diatas, penjajah atau kelompok yang ingin berkuasa atas suatu wilayah menganggap diri mereka sebagai manusia yang beradab sementara penduduk asli merupakan masyarakat bar-bar yang belum beradab, dan belum menjadi manusia seutuhnya. Dengan perspektif emik ini kelompok penjajah sering menganggap diri mereka sebagai pembebas, pembawa pencerahan, bahkan tak jarang dalam aktifitas penjajahan terselip misi mulia untuk memanusiakan penduduk lokal yang masih terlilit “keterbelakangan”.

Film avatar menggambarkan dengan cerdas bagaimana masyarakat modern menganggap penduduk lokal sebagai “Green Mongkey” dan menertawakan kepercayaan yang berlaku dalam masyarakatnya.

Lebih jauh saya ingin mencocokkan lagi cerita seperti ini dengan cerita lain seperti dalam film animasi Pocahontas. Bahkan tak jarang perspektif epik ber-reaksi terhadap perspektif emik seperti dalam film Good Bye Bavana, The Last Samurai atau dalam lirik lagu Babylon System dan Zimbabwe milik Bob Marley.

Dalam konteks hari ini, dimana penjajahan dan kolonialisme tidak lagi secara terang-terangan berlangsung – kecuali di Gaza – film avatar bisa mewakili kasus penyerobotan tanah masyarakat adat demi kepentingan pemilik modal atau ekonomi negara. Polanya sama, membujuk masyarakat lokal untuk direlokasi, menganggap mereka belum beradab, bahkan menganggap masyarakat sebagai komunitas berbahaya yang harus “dimoderenkan”, yang berujung pada penyerobotan tanah dan kekayaan alam mereka.

Diluar catatan sejarah hitam peradaban manusia, perlu diakui bahwa kesadaran manusia justru lebih banyak muncul dalam masyarakat yang dulunya menjadi pelaku penjajahan. Film ini menjadi salah satu bukti bahwa selain memiliki catatan hitam, sebagian kelompok dalam masyarakat barat juga telah sampai pada kesadaran dan kepekaan yang tajam terhadap kesalahan mereka. Para sineas barat telah menunjukkan kepedulian mereka lewat film dan menggunakannya sebagai media penyadaran terhadap pentingnya menghargai manusia dan kemanusiaan.

Kita bisa melihat gerakan penyadaran dan mungkin penebusan dosa masa lalu mereka lewat film-film seperti The Last Samurai, Blood Diamon, The Rabbit Proof Fence, dan film-film bertema kemanusiaan lainnya. Salah satu yang paling dramatis adalah aksi heroik yang dilakukan Rachel Corrie dalam menyelamatkan keluarga Palestina dari penggusuran yang merenggut nyawanya.

Terlepas dari kesan yang saya tangkap, Avatar tetaplah cerita fiksi yang berarti khayalan para sineas. Saya biasanya tidak menyukai film fiksi yang terlalu mengkhayal seperti mahluk aneh, alien, perang luar angkasa dan fiksi ilmiah yang tidak realistis. Akan lebih mudah menerima jika filmnya dalam bentuk full animasi. Avatar merupakan merupakan pengecualian, pun pengecualian itu berlaku saat menonton film ini untuk kedua kalinya.

___
Palu, 01 Januari 2013
01.45 am

Tulisan Terkait:
Semangat Pemberontakan Dalam Reggae
Pesan Dalam Lirik Bob Marley
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment