Monday, July 17, 2017

TIBA-TIBA RINDU



Apa kabar gunung?

Tiba-tiba saya rindu menulis tentangmu, tentang kita dahulu, dan tentang kita saat ini.

“Apa enaknya mendaki?” pertanyaan itu masih mengiang di telingaku.

Memang saat dimana saya dan teman-teman semasa kuliah dahulu gemar menghabiskan waktu di gunung adalah masa dimana trend pendakian belum se-keren saat ini. Apalagi masa para pendahulu kami yang hanya mengenal Alpina. Belum terlintas dalam pikiran mereka nama seperti Eiger, Consina, apalagi Rei melengket diperlengkapan pendakian.



Masa itu serba sulit dan kami sedikitnya masih merasakan kesulitan itu. Pertanyaan negatif kerap muncul dari karib kerabat yang masih asing dengan aktifitas pendakian. Kadang kita harus berbohong hanya untuk menghindari pertanyaan aneh, yang memang susah untuk dijawab. Susah, karena pertanyaan itu tidak berdiri tunggal, ia beranak pinak.

Kenapa harus mendaki?

Apa yang kamu dapatkan di gunung?

Apa tidak ada kegiatan lain?

Nanti tidurnya dimana?

Bagaimana dengan kuliahmu?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang jika dirangkum akan berujung pada kalimat “Mendaki itu pekerjaan aneh yang tidak berfaedah bagi masa depan”. Bagi kami saat itu, sebaiknya menghindari ketimbang meladeni. Untuk itu kami memilih berbohong.


Baca Juga: KITA

Di masa itu, anda harus perpikir berkali-kali kalau berangkat ke gunung sendiri, karena itu bisa berarti anda benar-benar akan mendaki sendiri, sebab gunung masih sepi pengunjung, bahkan diakhir pekan. Seorang teman pernah mengalaminya karena memang dia niatkan mendaki solo. Saya pun pernah mengalaminya, bukan karena niatan tapi kesalahan koordinasi dengan teman lain.

Tapi menurut kami itulah masa keemasan pendakian. Kami begitu menaikmatinya. Cerita persiapan yang seru karena kadang harus sembunyi-sembunyi, perjalanan yang penuh cerita karena numpang mobil truck atau pick up, numpang bermalam di teras rumah warga kalau kamalaman di jalan, hingga mencari alasan untuk numpang makan atau minimal ngopi di rumah yang sama.

Keseruan berubah hikmad saat pendakian. Canda tawa berangsur hening saat menyusuri jalan setapak, semakin kedalam semakin hening. Hanya hembusan nafas dan suara langkah. Tiba dilokasi bermalam suasana begitu intim. Ranting dan daun yang basah serta tanah yang lembab, batu-batu berlumut, tak banyak suara saat tiba.

Setelah tenda berdiri dan kopi mulai terseduh, dimulailah sesi dialog dengan alam, mengantar hari berganti gelap, menyongsong dingin yang menusuk. Begitu nikmat, begitu hikmad.

Tanjakan dipagi hari begitu legit untuk dilahap. Bagi kami, inilah sesi pengenalan dan pengukuran diri. Mengukur sejauh mana ketahanan fisik, sekeras apa keteguhan mental, sedalam apa kesabaran diri. Dan seperti biasa, dalam proses pengukuran ini tidak ada suara dari mulut. Yang ada suara langkah, hembusan nafas, dan sesekali suara sesuatu yang jatuh di belakang.

Bagi kami, dalam situasi seperti ini - semisal teman yang terpeleset dan jatuh di jalur pendakian - berempati harus pada tempatnya, terlalu cepat menolong bukanlah tabiat baik, karena masing-masing sedang mengukur dirinya, tak baik jika kita mengganggu proses pengukurannya. Ini dipahami oleh masing-masing tanpa harus dijelaskan. Pertolongan akan datang jika kondisi sudah meminta itu.

Bagaimana mengetahuinya? Entahlah, jika anda menjalaninya, anda akan tahu situasi mana kita harus menolong dan situasi mana kita menahan diri. Saat kaki sudah enggan melangkah, kita harus mengatur kembali ritme nafas kita, bukannya berteriak meminta pertolongan teman atau meminta seluruh tim untuk berhenti. Yang bisa dilakukan adalah bersandar di batang pohon, mengeraskan kembali tekad, dengan keyakinan bahwa fisik akan tunduk pada mental.

Itulah masa-masa indah, mencumbui gunung begitu mesranya, meresapi kabut begitu dalamnya. Mengukur diri dengan tepat tanpa gangguan suara cekakak cekikik yang tidak perlu, menikmati setiap detail keindahan tanpa gangguan jepret sana jepret sini yang over, menyusuri jalur tanah lembab yang belum banyak disisipi bungkus permen dan bumbu mi instant, menghirup kopi dalam-dalam tanpa hentakan musik dari speaker portable.
Tentu kami tidaklah sependiam itu saat mendaki. Canda tawa sangat diperlukan saat penat menghampiri. Sampai terbahak-bahak malah, karena memang gunung begitu sepi, kehadiran kami harus memberi warna, tapi bukan mendominasi.

Tapi saya juga meyakini bahwa sesuatu punya masa sendiri-sendiri. Masa kami mungkin sudah berakhir, masa hening penuh hikmad juga mungkin mulai berakhir, tapi ada satu hal yang perlu dipahami, jauh sebelum kita dan para pendaki terdahulu ada, gunung sudah berdiri anggun disana. Kita tidak punya hak sedikit pun untuk mengusik keberadaannya. Kita hanya bisa meminta sedikit waktu untuk berdialog dengannya.

Tetaplah mendaki, karena bagi pendaki, gunung tampak selalu melambaikan tangan untuk dihampiri.

Beruntunglah kita semua, karena hari ini sudah jarang ada pertanyaan aneh saat kita mengemas perlengkapan. Kalau pun masih ada pertanyaan aneh itu, berikanlah jawaban paling fenomenal dalam dunia pendakian.

Jawaban itu adalah: "Because it’s there!" milik George Mallory.

Salam tonjok, eh salah, tanjak.
___
Sikamali, 17 Juli 2017

Sruput lagi Enjang, Fadli, makasih so ba traktir lee..

1 comment:

  1. kalau rindu ya daki gunung aja biar ga rindu lagi susah amat wkwkwkwk


    Parade official shop (voucher 17 ribu)

    https://shopee.co.id/pc_event/?smtt=201.3498&url=https%3A%2F%2Fshopee.co.id%2Fevents3%2Fcode%2F271389969%2F%3Fsmtt%3D201.3498

    ReplyDelete