Thursday, March 23, 2017

Murahnya Agamaku


Pilkada DKI Jakarta menjadi pertaruhan sakralitas agama. Agama dijadikan taruhan. Ketika Ahok menyatakan “…Dibohongi pake surat Al Maidah…” banyak orang yang beragama Islam marah.

Sementara Ahok menjadi tersangka penodaan agama, saya yang menemani teman main gaplek ingin menyoal tentang agama saya yang lagi turun harga. Mungkin lantaran dinodakan, mungkin juga karena ulah umatnya sendiri.

Reaksi penodaan agama oleh Ahok datang dari berbagai kalangan. Mulai dari demo besar-besaran hingga himbauan untuk tidak menshalatkan jenazah sesama muslim yang mendukung Ahok.

Sebagian teman-teman yang dahulu tidak tahu menahu tentang surat Al Maidah, kini mendadak menjadi ahli tafsir yang dengan gigih berdebat di warung-warung kopi hingga di kolom-kolom komentar media sosial.

Yang mereka tahu, Al Maidah melarang pemimpin kafir TITIK.

Apa mereka tahu Al Maidah juga bicara tentang Adab Bersuci, bicara tentang aturan Halal Haram, bicara tentang Bersikap Adil. Entahlah, yang saya baca dan pahami, Al Maidah 51 turun untuk melarang ummat Islam menjadikan musuh sebagai kawan atau tempat berlindung.

Tak hanya itu, Al Maidah 57 juga turun untuk melarang umat Islam menjadikan orang munafik yang mengaku Islam untuk dijadikan kawan atau pelindung. Tindak tanduk mereka hanya akan mempermalukan bahkan menggadaikan agama demi kepentingannya.

Begaimana memaknai kasus Ahok?

Terserah penegak hukumlah bagaimana memaknainya. Saya hanya prihatin pasal ayat Al Qur’an yang sudah terlalu sering dikutip dalam kampanye. Kalimat-kalimat suci yang turunnya dibawa langsung oleh Jibril, dengan entengnya dicetak pada spanduk dan slogan kampanye Pilkada. Dan semakin nyatalah bukti dari pernyataan Ahok di pulau seribu. Seperti pernyataan Gus Mus dalam acara Kick Andy bertahun lalu, “Tuhan sering diajak kampanye.”


Agama menjadi sangat murah. Dipahami secara singkat dan pragmatis. Ayat-ayat suci tak ubahnya tulisan ilmiah yang lugas dan dangkal, tak lagi sarat makna. Pemaknaannya tak lebih dalam dari syair-syair pujangga yang kaya akan perumpamaan.

Aksi Bela Islam telah dilaksanakan, Aksi Bela Alqur’an juga sudah rampung, belum lama ini Jenazah ibu Hindun ditolak dishalatkan, kini ada lagi ajakan “TAMASYA AL MAIDAH”. Menggiring massa di Jakarta bahkan dari luar Jakarta untuk mengawasi TPS pada putaran ke dua Pilkada DKI.

Ditengah pertaruhan yang semakin lucu dan mengharukan ini, saya jadi rindu membaca karya sastra, semisal puisi atau prosa, dimana kata meliuk indah dan makna membuncah menyeruak.


Warkop sudah mulai sepi, kopi ku tinggal seujung jari. Daripada terkekeh sambil menangis sendiri, mending saya bergabung dengan teman yang masih asyik bermain gaple.

Jangan lupa Qur’an bukan cuma Al Maidah 51 saja, masih ada Lukman ayat 27.

Salam Ngopi dari warkop 212 Palu Barat... "CEKI!"

Palu, 23 Maret 2017
Gambar dari sini
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment