Thursday, November 3, 2016

Surat Wasiat 4 November




Saya mencoba menahan diri untuk tidak menulis tentang polemik surat Al Maidah 51, selain karena saya bukan ahli tafsir, saya juga tahu ada kepentingan lain dibalik polemik ini. Boleh jadi Ahok menyinggung perasaan umat Islam, tapi belum tentu ia bermaksud begitu. Ini persoalan bahasa saja, dan harusnya anak-anak mahasiswa sastra Indonesia bisa mendiskusikan kalimat Ahok itu dalam tinjauan ilmu bahasa.

Saya masih menduga maksud Ahok bukan untuk menista Al Qur’an. Sama ketika Ahok bilang "Kristen itu ajaran konyol" jauh sebelumnya, tapi umat Kristen tidak marah karena mereka tau apa maksud Ahok. Bagaimana mungkin seorang yang mau maju Pilkada cari penyakit dengan menghina kitab suci.



Jika saya bilang “Banyak orang menggunakan agama sebagai barang dagangan dalam kampanye” apakah saya merendahkan agama? Atau saya menyatakan “Dimas Kanjeng bawa-bawa Islam untuk menipu orang” apakah itu juga akan menistakan Islam? Entahlah, persepsi masing-masing orang memang berbeda, apalagi akhir-akhir ini, orang bercanda saja was-was. Candaan cerdas jadi barang mahal di negeri ini. Semua harus serius dengan dahi mengkerut dan telunjuk yang siap menuding.
Tapi saya tidak lagi tertarik membahas Al Maidah 51 dan Ahok, sebab perhatian kita sudah tertuju pada satu tanggal: 4 November. Jika gerakan hacker Anonymous dunia memakai tanggal 5 November sebagai aksi sejuta topeng di seluruh dunia, pendemo di Indonesia memilih satu hari sebelumnya.

Apa yang menarik dari aksi 4 November? Ada yang bilang pada hari ini umat muslim akan melaksanakan Jihad membela Al Qur’an. Para negarawan, para tokoh, dan ulama mendadak bertemu. Jokowi mengunjungi Prabowo, rivalnya dalam Pilpres, mantan presiden SBY bertemu Menkopolhukam Wiranto, Muhammadiyah dan NU juga bertemu presiden. Di media dikatakan Indonesia dalam keadaan siaga satu menyambut aksi 4 November. Ada apa?

Aksi 4 November adalah buntut dugaan penistaan Al Qur’an oleh Ahok. Tapi apakah gerakan ini murni mengusung penistaan Al Qur’an? Ahok sendiri sudah meminta maaf dan memberi klarifikasi bahwa ia tidak bermaksud seperti itu. Polisi juga akan memproses dugaan penistaan ini secara hukum. Tapi aksi 4 November besok tetap dilaksanakan, pendemo bahkan diminta untuk menulis surat wasiat sebelum turun demo. Ada JIHAD dan SURAT WASIAT. Kemanakah arahnya gerakan ini?

Kapolri Tito Karnavian pada acara Mata Najwa semalam menganalisa beberapa kepentingan dibelakang aksi ini, ada kepentingan Pilkada, ada kepentingan kelompok bisnis yang tidak suka dengan gaya Ahok, dan kepentingan kelompok yang memiliki misi penegakkan Khilafah. Semua kepentingan ini seolah menemukan momentumnya. Sehingga dalam situasi seperti ini, menjadi jelaslah kenapa permintaan maaf Ahok tidak lagi penting.

Dari analisa om Tito tadi bagi saya yang paling mengkhawatirkan adalah misi penegakkan khilafah. Kenapa? kita bisa belajar dari Arab Spring, kebangkitan dunia arab yang ingin bebas dari cengkraman penguasa yang otoriter. Mulai 2010 hingga saat ini gerakan ini sudah menyebar dari Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Suriah, Yaman, dan masih banyak wilayah lain di Arab dan Afrika.
Apakah ini aksi damai? Tidak. Arab Spring memakan puluhan ribu korban jiwa, dan berhasil menggulingkan pemimpin seperti Hosni Mubarak, Mohammad Morsy, dan terbunuhnya Muammar Gaddafi. Di Suriah dan Yaman pemberontakan ini bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Polanya sama, harus ada korban jiwa agar ada alasan untuk melakukan aksi lebih besar lagi. Jadi dalam pola gerakan Arab Spring korban jiwa itu HARUS jatuh. 

Apa kecocokan antara aksi 4 November besok dengan Arab Spring? Kita belum tahu apakah besok ada korban jatuh atau tidak. Tapi kedua gerakan ini sama-sama memilih hari jum’at untuk menggerakkan massa.

Lantas apakah kekhawatiran ini berlebihan? Tentu tidak. Kita sudah tau bersama bagaimana lebay-nya kelompok ekstrimis di Negara kita, kita juga tau isu yang akan diangkat nanti sangat sensitif, bahkan ada kata JIHAD dan SURAT WASIAT di sana. Watak orang Indonesia yang mudah teprovokasi, bak rumput kering yang mudah tersulut kata penyair Rendra. Kondisi yang sangat subur bagi aksi serupa Arab Spring terjadi. 


Ingat, Ikhwanul Muslimin sudah terusir dari mesir, sebagian mereka lari ke Turki, sebagian lagi pasti mencari rumah baru, dan Indonesia menjadi rumah idaman, sebab Negara ini memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.

Dalam situasi seperti ini saya merindukan watak asli orang Indonesia yang suka bercanda atau berguyon. Duduk santai, kopi di atas meja, pisang goreng di tangan kanan.

Dengar-dengar besok di kota kecilku Palu akan ada demo serupa mulai dari masjid Agung sampai ke gedung DPRD.

Ah INDONESAAA, akhir-akhir ini aku rindu duduk semeja denganmu.

Palu, 3 November 2016

Gambar Ilustrasi dari sini

6 comments:

  1. Terkadang kita tidak pernah tahu atau mau tahu apa yang akan terjadi meski juga terkadang harapan tak sesuai dengan keinginan dan kenyataan... Tapi itulah denyut kehidupan yang selalu membutuhkan sebuah gerakan agar terlihat jelas bahwa roda kehidupan masih terus berputar...

    ReplyDelete
  2. Iya kanda.
    Hidup akan terus berputar, tragedi demi tragedi akan terus berlalu. Dan peradaban akan mencari sendiri titik tenang dan matangnya.

    ReplyDelete
  3. Yuukk...seruput kopinya jangan lupa pisang goreng pake dabu dabu yaa..��

    ReplyDelete
  4. Jaman kita dulu beda. dulu kita daun yang masih segar. sekarang sudah kering. kena percikan api sedikit, amblas.

    ReplyDelete
  5. kenapa kata "daun segar" kesannya agak nakal ya...?? hehehehe...

    ReplyDelete