Sunday, April 2, 2023

PIALA DUNIA YANG BATAL


Sudah berapa hari saya menahan diri menulis dan mengomentari penolakan atas Israel dalam Piala Dunia U20 di Indonesia. Penolakan itu dilakukan oleh dua tokoh Kepala Daerah, yakni gubernur Bali, I Wayan Koster, dan gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Tapi semakin kesini, kedua tokoh ini semakin jadi bulan-bulanan netizen. Posisi saya sendiri sejak dulu jelas soal Israel, bahwa seseorang yang terang-terangan dan tidak menyesal melanggar nilai kemanusiaan tidak pantas untuk ditemani atau diajak main.

Karna penolakan ini, FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia akhirnya membatalkan drawing piala dunia U20 yang harusnya dilaksanakan akhir maret di Bali. Indonesia masih berharap saat Erick Thohir diutus menemui langsung Gianni presiden FIFA, namun keputusan akhir pada Rabu 29 Maret, Indonesia dibatalkan sebagai tuan rumah ajang Piala Dunia U20 pada Mei-Juni 2023. Secepat kilat itulah, Indonesia dicoret sebagi tuan rumah, hanya karna ada gerakan penolakan terhadap satu dari dari 24 negara peserta. Tidak ada alternatif, tidak ada solusi lain, pokonya coret.


I Wayan Koster dan Ganjar Pranowo pun jadi bulan-bulanan warga net. Kedua tokoh ini diserang dan dituduh membunuh mimpi sepak bola Indonesia. Serangan ini sangat massif hingga media besar serentak mengangkat Koster dan Ganjar dalam beberapa hari belakangan. Tempo.co bahkan memuat Surat Terbuka wartawan senior Wina Armada Sukardi. Dalam surat itu Koster dituduh sebagai pengkhianat, menorehkan tinta hitam, di suruh minta maaf ke masyarakat Indonesia dan mundur dari jabatan gubernur.

Media Israel tak kalah hebohnya mengangkat berita ini. Seperti dikutip Kompas.com, Hareetz media besar Isreal tak cuma mengangkat soal pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah, tapi mengompori penghapusan Indonesia dari kualifikasi Piala Dunia mendatang. “Federasi sepak bola Indonesia akan lebih didisplinkan oleh FIFA. Skorsing dapat menghapus Indonesia dari kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 2026. Kualifikasi continental dimulai pada bulan Oktober,” begitu Hareetz menulis pada kamis, 30 Maret.

Olahraga memang pada prakteknya susah dipisahkan dari politik, karna atlit mewakili entitas negaranya dengan simbol bendera. Bahkan pada kadar tertentu olahraga bisa menjadi etalase kekuatan dan pengaruh sebuah negara dalam pergaulan internasional. Dalam kacamata tersebut, penolakan terhadap Israel menurut saya bukan lagi sebuah opsi tapi mandatori. 


Yang pertama, UUD 1945 yang saat masih duduk dibangku sekolah dulu selalu kita baca pada upacara hari Senin, sangat jelas menyatakan bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karna tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,”. Soekarno dari awal berdirinya negara ini sudah menyatakan komitmen untuk mendukung Palestina dan tidak akan mengakui kedaulatan negara Israel di tanah Palestina.

Mengintip perbincangan netizen di kolom komentar atau di youtube, malah membuat kita tertawa sendiri karna gemas. Kesimpulan saya, orang Indonesia itu umumnya tidak tahu persoalan Israel - Palestina. Yang mengaku pro Palestina saja tidak tahu persoalan inti disana, apalah lagi yang cuma ingin menyoraki Timnas bola. Singkatnya kita tidak mengerti soal Palestina - Israel, tapi beban moral mendorong kita untuk bersikap, sebuah konsekuensi bangsa yang beradab yang memegang prinsip bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.


Israel berdiri tahun 1948 setelah malapetaka yang dikenal dengan Nakba. Saat itu ribuan warga Palestina dibantai, jutaan lain terusir dari perkampungannya, tanahnya dirampas lalu dibangunkan pemukiman Israel untuk menampung warga Israel yang didatangkan dari Eropa. Hingga hari ini jutaan warga Palestina korban Naqba tadi masih terkatung-katung di kompleks pengungsian yang tersebar di Tepi Barat, dan perbatasan Jordania, Suriah, dan Lebanon, mereka dilarang untuk kembali. Di tengah semua kekacauan inilah Soekarno dan tokoh pendiri Negara ini secara teguh menyatakan dukungan terhadap Palestina.

Lalu setelah lebih dari 70 tahun, bagaimana hubungan Israel dan Palestina saat ini. 


Sulit merinci kekejaman, jika pelanggaran atas nilai kemanusiaan dilakukan setiap hari dalam kurun waktu puluhan tahun. Di negara kita yang mayoritas muslim ini, kasus pelanggaran nilai kemanusiaan terhadap warga Palestina selalu ditutupi dengan MANTRA: perang agama, teriakan jihad, dan slogan ‘itu sudah ditakdirkan sampai hari kiamat’.

Mantra-mantra ini secara tidak sadar dan mungkin by design, menjurus pada pemakluman nasib Palestina yang akhirnya mentolerir kejahatan Israel. Toh itu sudah ditakdirkan, kita tidak bisa berbuat apa-apa, pasrah saja. Lalu pokok persoalan Palestina – Israel jadi tidak menarik dibahas, terlalu pelik, susah dimengerti, atau yang membahasnya akan dicap radikal dan konservatif.



Kondisi ini menjadikan literasi orang Indonesia terhadap Palestina jauh lebih rendah dibanding literasi aktivis pro Palestina di negara Eropa dan Amerika. Lihat saja gerakan pro Palestina di kota London yang sangat kuat atau argumen pembelaan terhadap Palestina oleh politisi di parlemen Eropa seperti Richard Boyd Barrett atau Mick Wallace atau Clare Daly

 

Contoh nyata lain adalah konten raja Podcast negeri ini, Deddy Corbuzier yang membahas apa saja, dan seolah paham apa saja. Deddy dan narasumbernya membahas topik ini dengan lelucon yang dia sendiri tidak mengerti. Mengambil kesimpulan prematur soal Palestina, dinyatakan ke publik dengan tingkat kepercayaan diri yang mengagumkan. Mungkin Deddy perlu nonton channel Youtube lain sebelum mengambil kesimpulan, sebut saja channel Richard Medhurst, seorang kristen berkebangsaan Inggris dan berdarah Suriah, seorang jurnalis Independen yang sering mengkritik kebijakan luar negeri negara Barat.

Di Indonesia memang jarang sekali cendekia atau akademisi yang membahas isu Palestina, seolah itu isu yang tabu untuk dibicarakan. Sementara Amnesti International dan Human Right Watch mengupas tuntas kondisi Palestina dalam laporannya tahun lalu. Di negara barat, seorang professor sekelas Noam Chomsky saja menulis banyak buku dan hadir sebagai pembicara di banyak pertemuan untuk mengkampanyekan pembelaan terhadap Palestina.


Mengurai kekejaman Israel akan sangat memakan banyak energi. Jika pembaca memang punya niat mengetahui apa yang terjadi di Palestina, silahkan pantau media sosial yang khusus membahas soal itu, sebut saja akun IG “Qudsnen” yang setiap hari mengupdate kondisi Palestina, penembakan, pemukulan, penggusuran, dan sebagainya. Ada juga akun IG “eye.on.palestine” dengan konten yang sama, atau akun CENTANG BIRU yang lebih punya nama seperti Aljazeeraenglish atau Middleeasteye atau trtworld. Bagi yang kesulitan dengan bahasa Inggris, boleh cek akun Sahabat Palestina. Tidak perlu ragu dengan kualitas beritanya, kebanyakan liputan mereka adalah video langsung di lapangan, jadi terferivikasi dengan sendirinya hoax atau bukannya.

Tapi baiklah, jika memang ingin sedikit bocoran kondisi terkini di Palestina, saya akan coba gambarkan bahwa di bulan Maret tahun ini saja ada lebih dari 3.500 orang warga Israel yang memaksa masuk ke masjid Al Aqsha, tempat suci kedua ummat Islam setelah Ka’bah di Mekkah, ada 12 kali serangan terhadap masjid Al Aqsha, dan 189 warga Palestina ditangkap saat mempertahankan masjid.

Dua hari yang lalu Natan Zvi seorang tokoh agama Yahudi di Israel menyerukan untuk melakukan ibadah Yahudi yakni sembelih hewan kurban di kompleks masjid Al Aqsha. Bahkan bulan maret lalu Bezalel Smotrich mentri keuangan Israel secara terang-terangan di Paris mengatakan bahwa kota Huwara di Palestina harus dimusnahkan. Bahwa Palestina itu bukanlah sebuah entitas yang nyata, ‘there’s no such thing as Palestinians, because there’s no such a thing as a Palestinian people’, tidak ada yang namanya Palestina karna tidak ada yang namanya orang Palestina.

Soal sepak bola, hanya berselang sehari setelah pembatalan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia, militer Israel menembakkan gas air mata ke dalam Stadion Fisal Al Husaini saat pertandingan partai final dua klub bola Palestina sedang berlangsung. Begitulah secuil informasi hubungan Palestina – Israel saat ini.

Hari ini, penolakan terhadap Israel tiba-tiba jadi bola panas yang membakar Koster dan Ganjar. Argumen para ahli dunia maya bertebaran:

‘Kalian membela negara lain tapi membunuh mimpi prestasi anak negeri sendiri,’ atau ‘jangan gabungkan antara Olahraga dan urusan politik’ atau ‘Palestina saja tidak mempersoal, kenapa kita yang ribut’ atau ‘Jika tidak ingin ada Israel, kenapa harus mengajukan diri jadi tuan rumah’.

Saya pikir tidak ada satu pun dari kita yang tidak ingin melihat Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia. Saya jenis orang yang masih menganggap ada soal-soal prinsip yang tidak bisa ditawar.
Seandainya memang semua sepakat bahwa olahraga terpisah dari politik dan kebanggaan sebuah negara, maka tidak akan ada masalah dari mana pun atlitnya dan apapun cabang olahraganya. Toh tim sepak bola Israel berjuang sekuat tenaga juga untuk bisa lolos menjadi peserta dan itu perlu dihargai.


Tapi ternyata tidak se simple itu, FIFA sendiri menggunakan standar ganda dalam sepak bola. Russia dilarang bertanding di Piala Dunia Qatar, Pemilik club bola Chelsea dipaksa mundur hanya karna dia orang Russia, club Celtic juga pernah di denda oleh UEFA saat supporternya mengibarkan bendera Palestina dalam laga kualifikasi liga Champion, sementara sanksi yang sama tidak diberlakukan bagi supporter club liga Inggris yang mengibarkan bendera Ukraina. Pemain Leicester dan Leeds saja berpose bersama dengan bendera Ukraina sebelum pertandingan dimulai.

Indonesia mengajukan diri jadi tuan rumah karna ingin event-nya bukan soal Israel-nya. Jadi jika Israel yang menjadi persoalan mestinya bukan keseluruhan event yang mesti dibatalkan, tapi Israel-nya yang dicarikan solusi. Sama persis saat Russia yang bermasalah di Piala Dunia Qatar, bukan berarti seluruh event jadi masalah.

Lalu karna kekecewaan yang membingungkan, kita pun melampiaskannya kepada Koster dan Ganjar, meminta mereka untuk mundur dari jabatan. Kegagalan kita menyusun logika atas nilai kemanusiaan, dan kepayahan kita mengais
kesadaran sebagai bangsa yang beradab, memaksa kita mengajukan telunjuk kepada orang lain. 

 

Dan tuduhan itu akan disambut dengan gembira oleh supporter lain di tahun politik ini. Yang jelas bukan supporter bola.

___

Jl. Banteng, Palu 11 Ramadhan 1444 (2 April 2023)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment