Wednesday, February 28, 2018

PLEASE WARASLAH, INI BARU FEBRUARI 2018




Serasa baru kemarin saya menulis tentang pentingnya menjaga kewarasan dalam tahun politik ini. Tulisan itu saya posting awal tahun ini. Dan kekhawatiran itu pun terbukti.

Isu SARA saat ini menjadi hangat bahkan panas. Ngerinya lagi, isunya bukan cuma SARA tapi berkolaborasi dengan PKI. Di tulisan sebelumnya saya berpikir kedua isu ini akan menjadi senjata politik yang terpisah, namun pengusung isu ternyata lebih kreatif. Kedua isu sensitif ini ternyata bisa berkolaborasi.

Begini rentetan kejadiannya:

Menjelang akhir Januari lalu Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Desa Cicalengka Kulon, Bandung, KH Umar Basri bin KH Sukrowi dianiaya seorang tak dikenal hingga tak sadarkan diri. KH Umar Basri diserang saat melakukan Wirid seusai shalat Subuh.

Di awal Februari, hanya berselang beberapa hari dari kejadian di Cicalengka, Ustad H. Prawoto tokoh Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis) di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kota Bandung, juga dianiaya, kali ini hingga tewas.

Tanggal 10 Februari, seorang biksu bernama Mulyanto Nurhalim diusir dari kampungnya sendiri Desa Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten oleh sekelompok warga.

Selang sehari, yakni 11 Februari, gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta diserang orang tak dikenal menggunakan senjata tajam pada minggu pagi saat jemaat gereja sedang ibadah. Aksi itu melukai para jemaat dan Romo Karl Edmund.

Setelah itu media sosial pun bekerja.

Di Whatsapp beredar informasi terkait rencana penyerangan terhadap KH Endang Darwis di Ponpes Miftahul Jannah, di Desa Sukamakur, Karawang. Setelah diusut, ternyata tidak ada nama KH Endang Darwis disana, bagaimana bisa?

Di Whatsapp juga beredar kabar seseorang telah membunuh muadzin di Majalengka, Jawa Barat. Sumber kabar tersebut ternyata dari facebook seorang dosen aktif berhijab. Ia adalah dosen Bahasa Inggris di salah satu Universitas di Yogyakarta. Info Hoax di akun facebooknya sudah dibagikan lebih dari 7 ribu kali. Dosen tersebut saat ini telah ditangkap oleh polisi. Alhamdulillah.

Di Bekasi heboh dengan isu video penyerangan orang gila terhadap seorang ulama bernama Ustad Ridwan Dzakir di Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Seorang perempuan dalam video tersebut berkata “sekarang sedang musim PKI.”

Di facebook, muncul halaman PKI dengan berita provokatif yang seolah-olah PKI sedang bangkit. Padahal kalau ditelusuri, asal foto-foto yang diperlihatkan tidak ada hubungannya dengan kebangkitan PKI di Indonesia. Halaman lain berjudul Mak Lambe Turah, berusaha membongkar kebohongan halaman PKI tersebut. 

Kemana kegilaan ini berujung?
Apa ada yang cukup waras untuk menebak?

Ini ibarat DEJAVU. Seperti CLBK (Cerita Lama Bersemi Kembali). Dulu ada majalah obor-oboran, yang isinya kompor-komporan. Bedanya dulu isu PKI yang dia angkat tidak berhasil karena isu agamanya belum digarap serius. Tahun ini sepertinya ada garapan yang lebih serius, sampe memunculkan korban.

Tapi kita patut bersyukur, baru-baru ini polisi telah menangkap 5 orang penyebar hoax bertema pembantaian ulama dan kebangkitan PKI. Mereka tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang tersebar di berbagai daerah. Mau tau salah satunya di daerah mana? Di kota Palu, kota kecil tempatku lahir dan besar.

Di tahun-tahun politik yang urgen seperti ini, kabar beredar semakin liar. Dan anehnya, pembaca di negeri ini juga tak kalah liarnya. Membagikan informasi tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Minimal mencari informasi tersebut di google, apakah benar atau hoax. Sadarkah mereka betapa besar konsekuensi yang mereka pertaruhkan.

Begitulah, kewarasan menjadi sangat mahal ditahun-tahun seperti ini.

Saya pun hanya bisa berkata:
Come on, please, waraslah, ini baru bulan Februari bro…!!!
Pilpres masih jauh, Hoax masih akan lebih dahsyat lagi menjelang Pilpres nanti,”
___
Palu, 28 Februari 2018
Gambar dari sini
Comments
0 Comments