Thursday, February 2, 2017

Saya Suka Ahok. Itu Saja!





Iya, rasa-rasanya memang saya suka gayanya Ahok. Ini persoalan suka, bukan mendukung. Dalam konteks Pilkada Jakarta tidak ada bedanya saya mendukung atau tidak, selama alamat tinggal di KTP saya di Palu. Enaknya jadi orang luar, bebas saja mau beropini apa. Asik kan.

Tapi suka atau tidak suka, Pilkada Jakarta terlalu menarik untuk tidak diikuti. Saya berani jamin, orang dari Aceh sampai Papua pun tertarik ikut perkembangan Pilkada DKI.

Apa yang menarik dalam Pilkada DKI? Karena masalahnya kompleks. Seperti main game, atau main catur, kalau lawannya di bawah level kita biasanya kita akan cepat bosan. Kalau ceritanya biasa-biasa saja akan membosankan. Kita semua pasti setuju, cerita Spongebob tanpa Squidward akan sangat tidak menarik. Makin kompleks, makin seru.

Straight to the point, ini salah satu sifat Ahok yang saya paling suka. Tidak basa-basi, tidak ke kiri dan ke kanan dulu, tapi menyatakan langsung. Sebagian berpendapat itu keburukan Ahok, bagi saya justeru itu kelebihannya yang jarang dimiliki pejabat lain. 
Dalam permainan catur, kata-kata Ahok ibarat Skak Mat. Terus terang dulu saya suka mengintip video marah-marahnya youtube.

Disuatu wawancara dia mengklarifikasi berita TV One yang mengatakan Pemda Jakarta membuat sumur resapan senilai 1,2 milyar. “Dari mana kalian tau data itu?... itu maksimal 200 juta untuk sumur yang dalam. Semua anggaran kami buka, mana ada pejabat yang, saya tantang, periksa harta kamu, biaya hidup kamu, dan pajak yang kamu bayar, baru kamu jagoan ngomong sama saya. Jadi jangan membuat opini yang seolah-olah hebat, semua anggaran ada di website, anda bisa buka sendiri, sampe lembar ketiga, mana ada propinsi yang lakukan seperti ini, semua gaji saya, saya publikasikan.”  Skak Mat

Ada lagi wartawan yang tanya, apakah penggusuran Kalijodo dijadikan panggung politik oleh Ahok. “Anda ini mau cari apa sama saya, apa saya masih kurang jelas membuat pernyataan… saya mendukung lokalisasi, tulis, puas toh? Saya ngomong konsisten undang-undang. Anda puas sekarang toh, Ahok mendukung lokalisasi.” Skak Mat

Menjawab wawancara tentang perang melawan koruptor Ahok menjawab “Kita seolah-olah kurang santun kalau melawan arus, melawan maling mah gak perlu santun, wajib hukumnya. Bagi saya kalau santun itu, anda berjuang mewujudkan keadilan sosial untuk rakyat, anda tidak mencuri uang rakyat, itu santun. Tapi kalau ngomong doang santun tapi mencuri, itu bajingan bangsat. Itu kata saya. Terus saya tidak santun karena ngomong bajingan bangsat, menurut saya itu pantas menyebut anda bajingan kalau anda mencuri.” Skak Mat
Waktu DPRD Jakarta menuduh Ahok mencoba menyuap ketua DPRD, Ahok menjawab “Panggil gua datang ke angket, biar gua jelasin semua, gua bukain Tai Tai semua.” Pembawa acara mencoba mengingatkan “Sekali lagi kita sedang live pak Ahok”. “Gak apa apa, biar orang tau tai semua,” Skak Mat

Saya tidak bisa menahan tawa saat itu. Ahok mempesona.

Banyak orang disekeliling saya benci sama Ahok, malah beberapa dari mereka tidak segan bilang, “bunuh saja dia.” Saya tidak tahu. Apa saya yang keliru atau bagaimana. Yang jelas bagi saya Ahok mempesona.
Saya belum menemukan apa sebenarnya kesalahan Ahok. Dari semua rentetan kebencian terhadapnya, sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang saya masih bingung melihat dimana letak kesalahannya sampai harus dibenci bahkan dibunuh

Ada ulama yang bilang muslim yang dukung Ahok itu munafik. Saya tidak tahu, yang saya tahu saya suka Skak Mat-nya Ahok. Bahkan rindu. Tentu kita semua setuju, tanpa Ahok Pilkada DKI akan hambar. Tidak menarik.
Ah, iya saya tahu apa kesalahan Ahok.
Apa anda juga sudah tahu?

Kesalahan Ahok itu cuma satu Berkata Jujur. Saat ia bilang bangsat, itu jujur. Saat ia bilang tai, itu jujur. Saat ia bilang “Ada orang yang menggunakan ayat Al Qur’an untuk berpolitik” itu jujur. Bahkan tahun 2015 ia pernah bilang "Kristen agama konyol," untuk yang satu ini saya tidak tahu dia jujur atau bercanda.


Cuma memang, kita belum siap menerima bahwa Skak Mat Ahok kenyataannya memang seperti itu. tapi tidak apa-apa, namanya saja belum siap. Tidak bisa dipaksa.

Saya suka Ahok. Seperti juga suka saya pada Captain Jack Sparrow, pada Squitward, pada Rossi. Saya suka saja, tanpa ada kepentingan apa-apa. Toh Ahok tidak kenal saya dan saya juga bukan warga Jakarta.

Bagaimana dengan kasus hukumnya? 
Itu urusan penegak hukum memutuskan, bukan urusan saya, saya kan tinggal menonton.

Mari kita Skak Mat
Selamat sore, kota Palu.
Selamat menunaikan ibadah Shalat Magrib
___
2 Februari 2017 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment